Catatan Harian Bidan: The VT Warrior

Tags


        Seseorang pernah berkata padaku bahwa hidup itu penuh kejutan. Dan beberapa kejutan memang tidak datang membawa kenyamanan. Karenanya terkadang aku tidak benar-benar siap menyambut berbagai twist yang mungkin terjadi dalam hidupku. Seperti Mr. One yang selalu kunomer satukan dan kini justru menghilang pergi meninggalkan.
            Yah, jalan kaki saja bisa lelah, jadi bukan mustahil kalau hati pun sanggup merasa letih kan? Lagi pula apapun yang terjadi hidup terus berjalan. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena satu atau bahkan ribuan orang patah hati. Tapi untuk saat ini aku ingin sejenak mengambil nafas sebelum nantinya kembali melanjutkan langkahku. Dan lagi, masih ada pertempuran lain yang membutuhkanku.
           Berangkat pagi pulang sore itu sudah biasa. Dan tak terhitung berapa jumlah pertempuran yang telah kulewati dan jiwa yang kuselamatkan selama bertugas sebagai VT Warrior di Bataliyon Tiga Kebumen.
              “OEEK, OEEK…”
            Bagi orang lain mungkin hanya sekedar suara tangis bayi, tapi bagi kami para VT Warrior atau bahasa kerennya bidan, suara itu juga merupakan sinyal tanda kemenangan kami. Walau terkadang aku benar-benar ingin muntah kalau sudah terkena serangan ledakan air ketuban.
               Hoeek…
           “Mba, ini lho si calon pengantin,” gurau pak Eko sembari menyalami segenap bidan yang hadir dan otomatis mengundang sorot mata ke arahku ketika Pak Eko lantas menunjuk ke arahku.
               “Nunggu apa lagi kamu Tam? Menikah gak harus jadi PNS dulu lho.”
          Sudah begitu dua bidan turut pula melempar amunisi mereka, “Iya, Tam. Saya dulu juga menikah belum PNS kok.” Kata Bidan Kiki dan dilanjut Bidan Har yang menimpali, “Jangan seperti saya lho Mba Utami. Menikah udah lumayan umurnya, kasihan anaknya.”
              Dan aku cuma bisa pasang senyum kecut yang kupoles dengan barisan gigiku agar tak begitu terlihat syok. Belum juga aku membalas ucapan mereka, Pak Eko sudah kembali membuka suara, “Udah segera aja. BRASBRESS. Lebih cepat kan lebih baik.”
              Lalu sekejap kemudian Ika yang notabene sudah menikah dan merasa aman pun meledakkan tawanya.
          “Hehe, minta doanya pak, bu. Semoga lekas disegerakan,” kataku seraya ikut tertawa walaupun cuma pura-pura.
             Fuuh
           Terus terang itu pertempuran yang lebih menyeramkan dari semua pertempuran yang kulalui di medan persalinan. Dan lagi hal itu sekilas mengingatkanku pada Mr. One. Sekian lama terjalin sampai beda pulau dan zona waktu pun tetap kupertahankan, dan pada akhirnya jalan kami tak membentur menjadi satu tiitik yang sama. Perbedaan diantara kami yang tadinya hanya sebatas pulau dan zona waktu kian melebar hingga terlalu jauh untuk kami tetap beriringan.
           Sisi liarku kadang berkata, bukankah dia pergi karena aku tak lagi dianggapnya layak untuk dipertahankan? Tapi pertanyaan itu kemudian justru melemparku ke pertanyaan lainnya. But WHY?
Apa karena aku bukan orang dengan duit yang melimpah? Bukan perempuan yang bisa memberinya kehidupan yang wah?
             STOOOP!
       Aku benci kalau pikiranku melemparku sampai sejauh itu. Meski pada kenyataannya penghasilan kami memang jauh berbeda. Karena VT Warrior bukan profesi yang menjanjikan banyak uang seperti yang mungkin banyak orang pikirkan. Dan hal itu yang terkadang membuatku menyesal karena sudah tidak ikut nasihat bapak.
        Aku bangga menjadi seorang VT Warrior. Meski bukan itu yang kucita-citakan dari awalnya. Masih ingat dulu ketika masih SMA dan ditanya soal cita-cita, aku dengan lantang menjawab, “POLWAN!”
       “Serius, Tam? Kalau aku sih dari dulu pengin mendalami seni lukis kalau gak desain.” Tanya Kurniawan, salah satu teman satu SMP yang masih betah sampai jadi teman SMA juga. (Cerita tentang Kurniawan bisa disimak dalam cerita sebelumnya berjudul: Aku Bukan Nurbaya)
         “Serus dong. Tapi aku juga pengin jadi dokter juga sih, se. Jadi mungkin kalau Polwan gak jadi ya dokter bisa lah.” Kataku melempar senyum ke udara yang entah sampai mana senyumku akan melambung bersama cita-citaku. Mungkin sampai saat Mba Ari mengingatkanku kalau sekolah di Fakultas Kesehatan itu jelas MAHUAL. Dan senyumku pun hilang seketika. Pecah dan berhamuran di angkasa. Belum lagi ketika aku dihadapkan pada kenyataan bahwa tinggi bodiku sama sekali tidak masuk kriteria Polwan.
           Mampus deh!
         Karena itu di akhir semester kelas XII aku hanya bisa diam ketika teman-teman yang lainnya justru sibuk dengan pendaftaran kuliah mereka. Secara semenjak aku berasa tak punya cita-cita usai dua rencana besarku kandas tanpa sempat memulainya, aku tak tahu lagi akan melangkah kemana. Mau jadi atlit badminton tapi kemampuan cuma pas-pasan juga. And believe me, hidup tanpa cita-cita itu sama sekali gak asik. Hingga akhirnya, rapat besar keluarga pun diadakan dengan topik utama, “Kuliah Si Bontot”
         “Ke STIKES Gombong aja ya Tam. Ambil D3 keperawatan,” usul Kak Eti. Namun langsung mendapat sambutan tidak menyenangkan dari bapak.
           “Terus terang bapak gak sanggup biayai kamu di keperawatan.”
Ruang pun sunyi senyap seketika. Oke, sebenarnya aku juga sama sekali tidak ada passion dengan itu, jadi jujur aku lega karena bapak juga tidak setuju. Tapi ucapan bapak benar-benar membungkam suasana.
        “Kamu,” bapak agak ragu meneruskan. “Kalau daftar di keguruan saja gimana? Biaya gak begitu mahal…”
            “Tami gak mau jadi guru, pak.”
           Giliran suaraku yang membungkam seisi ruangan. Bapak sampai terkejut, begitu pun Mba Eti dan Mba Ari. Dan sesaat kemudian, aku sadar bahwa apa yang kukatakan begitu egois. Saat itu aku sama sekali tak tahu harus berkata apa lagi selain maaf. Tapi ibu berhasil menenangkan bapak dan kakak-kakak sekalian juga tidak ada niat memaksaku. Namun rapat besar berakhir dengan hasil nol besar.
       Karena pada akhirnya aku tidak tahu harus masuk kuliah jurusan apa, aku coba bekerja sekenanya di Ibu Kota hingga di tahun berikutnya, akhirnya aku resmi menjadi anak AKBID setelah permintaanku untuk masuk informatika juga tidak diluluskan.
Jadi memang benar bahwa hidup itu penuh kejutan. Aku yang sama sekali tidak ada niatan awal masuk kebidanan, kini pulang pergi naik turun gunung setiap harinya dengan pin Pack-Man berslogan Kami Siap Melayani bertengger di seragamku. Yang artinya aku siap bertempur melawan muncratan darah maupun ledakan ketuban yang membahana. Lagi pula…
            “Tami, mantai yuk?” ajak Lintang.
            “Mantai? Kemana?” tanyaku. Dan bau-baunya Aku bakalan batal berkemas pulang.
            “Si Ika ngajak ke Bocor. Buruan ayuk.”
          Aku tersenyum seiring Lintang menyeret langkahku keluar dari Bataliyon Tiga kami, atau yang akrab di mata orang-orang dengan sebutan Puskesmas Kebumen III. Jadi VT Warrior bukanlah pekerjaan mudah dan bergaji mewah. Tapi aku percaya bahwa kebahagiaan bukan datang dari keduanya. Lagi pula, saat aku tidak bisa menemukan kebahagiaan kala ku sendiri, aku selalu bisa menemukan kebahagiaan itu bersama teman-temanku. Kami para pendekar tali pusat, kami sang VT Warrior.

           TUT TUT TUUUT
       Salah satu tantangan yang harus dihadapi seorang bidan atau the VT Warrior, adalah tidak teraturnya waktu istirahat. Karenanya kadang aku benci dengan dering telpon dan memutuskan untuk membunuh suara ponsel selama jam tidurku di rumah. Dan sialnya, kali ini aku lupa melakukannya.
           “Tami, kapan ke Jogja?”
           “Oh, Deprut. Kenapa emangnya?”
       “Ya kali kita kan udah lama gak ketemu nyet. Ajak si Bunga juga sekalian. Nanti biar aku ngomong ke Cemplok sama Mintol”
        “Masalahnya aku kerja bukan di Bataliyon moyang sendiri nyet. Jadi gak bisa seenaknya ngambil libur gitu aja trus gas motor ke Jogja. Lagian terakhir aku ke Jogja bulan kemarin, aku BBM kalian pada gak ada yang respon juga.”
            “Alah udah pokoknya kamu atur aja kapan bisa ambil libur trus kabarin aku biar sisanya aku yang urus. Oke nyet?”
         Belum juga aku kembali membalas tuntutan seenak jidatnya, suara Devi sudah lebih dulu menghilang sirna. Telpon ditutup sepihak tanpa Devi mau mendengarkan penjelasanku. Tapi aku terlalu letih untuk memaki atau mengumpat dan akhirnya aku memilih untuk kembali melanjutkan waktu tidurku yang berharga. Karena VT Warrior tak pernah tahu kapan harus tetap terjaga.



To be continue…




By: Hida

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon