Verlos Knight, Minggu Ke 03: Abortus Love

Tags




     Siapa sih yang ingin gagal dalam cinta? Kamu, kamu, atau kamu?
    Tidak ada satu individu pun di dunia yang cukup sinting hingga menginginkan gagal dalam cinta. Seperti tidak ada satu pun ibu yang ingin gagal dengan kehamilannya. Aku pernah menyaksikan betapa hancurnya hati seorang ibu ketika mengetahui janin yang dikandungnya harus berpulang, bahkan sebelum sempat dipeluknya. Dan aku pernah merasakan kehancuran serupa. Ketika cinta yang dengan erat aku genggam, dengan gigih aku perjuangkan, berujung pecah berhamburan. Oke, sakitnya mungkin tidak bisa dibandingkan. Kecuali pengkhianatan itu bisa disetarakan dengan perihnya miskram. Belum lagi perihnya hati.
     Badanku masih saja gemetar, terduduk lemas, tak peduli berapa kali aku sudah menghadapi pasien yang harus kuhibur untuk melawan rasa kehancuran yang sama. Mungkin karena ini adalah kali kedua Novita harus menghadapi kehilangannya. Tangisku saja belum juga mengering, mengingat bagaimana ibu muda itu begitu bersemangat kala pertama kali datang melakukan ANC di pustu kami. Dan kini aku kehabisan kalimat untuk menghiburnya.
     Menurut cerita para bidan senior, tak lama sebelum aku mengabdikan diri di PuskesmasKebumen III ini, Novita pernah mengalami abortus dan butuh waktu hingga akhirnya bisa kembali naik kasta menjadi bumil. Namun harapan itu tak lebih dari kembang api yang membuat orang-orang berseru bahagia ketika melambung tinggi, lalu menjelma menjadi keheningan ketika nyalanya kemudian memecah menyisakan gelapnya malam.
      “Mba Utami. Ada yang nyari…”
     Keningku berkerut, melirik arloji di tanganku sembari bangkit dari kursiku.
Aku tak pernah suka bila ada yang datang mencariku di tempat kerja. Apalagi di jam saat pasien sudah tak lagi boleh dibesuk. Dan dari cara Mba Fitriani dan Yutika memandangku dengan raut muka mereka yang agak nyeleneh, bisa kutebak siapa yang malam-malam datang mencariku.

      (Baca juga: Diary Cinta Adiana)

      Huff
    Aku menghela nafas cukup panjang. Menjatuhkan tubuhku di kursi panjang halaman belakang puskesmas dan berharap waktu akan sejenak berlama-lama untukku. Berharap sentuhan angin kan membawa pergi segenap lelahku. Mataku nyaris terpejam, terlena dengan kesaktian tempat teristimewa di battalion kami. Dan telingaku yang notabene cukup tajam karena factor kecaplangannya yang aduhai, menangkap satu suara lirih tak jauh dari tempatku.
     “Wow, kamu…”
  Suraku tertahan, aku lupa nama orang yang tengah duduk menjelepok dengan laptop di pangkuannya. Rambut bergelombang sebahu, kacamata… dan tak acuh. Bahkan dengan reaksiku yang nyaris berteriak.
     “Adi. Barangkali ibu ne lupa nama saya.” Ucapnya, tanpa melengos satu sentipun. Cuma ada satu bonus senyum kecil yang tak begitu kentara. Tapi akhirnya melengos juga. Menyelesaikan senyumnya yang aku lihat tak begitu tulus-tulus banget. Dan aku diapanggilnya ibu. Grrr…
     “Hm, sebenarnya bukannya lupa, sih. Cuma kaget dan heran aja. Kok kamu bisa…”
   Oke, aku sama sekali tidak lupa namanya. Jujur sulit dengan kesan pertemuan kami beberapa malam yang lalu. Malam yang… ah, entahlah. Saat itu aku berharap lupa ada kejadian seperti itu.
    Sedikit flash back, malam itu aku kedatangan pasien tak diundang yang cukup membuat geger seantero pustu battalion tiga. Masa lalu memang terkadang bisa menjelma menjadi virus menyebalkan yang menyerang sel-sel kehidupan kita sampai ke tingkat atomic. Tak terhitung berapa kali aku memperingatkan Wahid agar jangan mencariku ke tempat kerja. Dan bahwa setiap kedatangannya itu cuma akan menjadi suatu kesia-siaan belaka, karena aku tak lagi berniat merubah keputusan dan pendirianku tentang hubungan kami. Tidak setelah segala yang kulakukan untuk mempertahankan hubungan kami dan dibalasnya dengan satu tikaman mematikan. Selingkuh!
     “Kamu ini bandel apa udah gak waras sih? Niat banget ya bikin aku malu. Sudah berapa kali aku bilang ke kamu, jangan datang ke tempat kerja! Kamu gak tahu apa, seperti apa yang namanya tempat kerja itu?”
     “Maaf, Set,” katanya, “Seti” itu nama panggilanku di rumah dan hanya orang-orang yang satu desa yang tahu. “Habisnya aku gak tahu lagi gimana caranya supaya aku bisa ketemu kamu kalau gak begini?”
      “Kenapa kamu gak berhenti aja urusin hidup aku dan urus itu calon istri kamu? Aku gak mau, ada orang mencak-mencak aku dan mengira aku ini pelakor!” desisku. Kadar kemuakanku telah sampai pada batasnya. Dan Aku harap mukaku tidak sedikit pun memperlihatkan kecemburuan. Aku marah. Sangat marah. Dan aku sudah sedemikian muak dengan situasi yang tak pernah beranjak maju ini. Cukup itu yang harus Wahid lihat dalam diriku.
     “Raya gak mungkin begitu. Aku tahu betul bagaimana dia.” Sanggahnya. Dan langsung aku buang tangannya yang berusaha menyentuhku sementara mulutnya justru memuji perempuan lain.
     “Kapan sih kamu sadar, Wahid. Hubungan kita itu sudah lama berakhir. Dan kamu tahu persis apa dan siapa yang melakukannya.
    “Kamu tahu pasti alasannya.” Tandasku. Ada bulir hangat yang kurasakan mengalir lembut dan perlahan mengaburkan pandanganku. Aku berusaha keras menahannya. Menyembunyikannya dari Wahid dan bahkan mungkin seluruh dunia. Beruntung malam tak memberi kami cukup terang untuk memperlihatkan kerapuhanku. Meski ada titik kecil di hatiku yang menginginkan agar pria brengsek di sampingku itu melihatnya. Entah kenapa…

      (Baca juga Cerpen: Aku Bukan Nurbaya)

     “Kelihatannya, kalian punya masalah yang cukup serius. Sampai nyaris berantem di depan pustu segala,” ucapan Adi seketika menghentikan adegan kilas balik yang jujur enggan aku mengingatnya. “Lebih dari sekali kayaknya?” Tutur Adi lagi karena Aku tak juga menanggapi. Aku sibuk meremas lembaran kisah menyebalkan itu dan menjejalkannya di sudut otakku. Oh, padahal aku berniat membuangnya.
       Aku sedikit malu mengatakannya, namun mengingat Adi sudah sedikit tahu situasinya, akhirnya, aku pikir tak apalah bila Aku sedikit lebih terbuka. “Yah, biasa lah mas. Penyakitnya cowok.” kataku. Meraih cup kopi tawarannya dan menyimpul senyum di wajahku. “Nyesel belakangan.
     “Aku ragu sih kalau dia beneran nyesel. Karena kenyataannya dia gak lebih milih Aku.  Dan mas juga dengar sendiri kan malam itu?” Kuangkat bahuku dan membayangkan dia tahu kemana arah bicaraku. “Bagaimana Aku pernah tantang dia. Kalau memang dia serius suka sama aku, nikahi aku! Tapi sampai sekarang, orangnya tetep diam. Aku bilang juga sih kalau aku itu kasih dia waktu sampai akhir tahun ini. Tapi aku gak terlalu berharap lah. Takut kecewa mas.”
      Si Adi tertawa kecil, melempar cup-nya yang telah kosong tepat ke dalam tong sampah yang tak jauh dari tempat kami duduk menghadap belantara padi yang masih hijau muda. “Apa memang harus begitu?”
     “Apanya mas?”
    “Ah, enggak. Yang lebih tahu dia kan ibu sendiri. Ehh, maaf. Kebiasaan, manggile ibu. Hehehe,” Mas Adi meraih rambut panjangnya dan menguncirnya.
     “Hehehe, gak apa-apa mas.”
    “Tapi…” Mas Adi diam sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. “Jujur, aku juga pernah disakiti. Pernah juga menyakiti. Bahkan mungkin lebih sering menyakitinya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Dan kami pisah.
    “Sesudah itu aku sadar. Bahwa entah siapapun yang bersalah pada awalnya, sebuah perpisahan sudah pasti menyakiti dua-duanya.”
     Aku manggut-manggut, sejenak memikirkan ucapan Mas Adi. “Iya sih, mas. Kadang juga Aku merasa kalau aku itu bisa keterlaluan banget ngomongnya kalau sudah emosi.”
      “Ya itu dia. Jadi yang menyakiti juga punya beban tersendiri. Karena hidup itu kan gak mungkin semuanya akan berjalan sempurna, mulus sesuai dengan harapan kita. Yah, cuma sekedar saran, sih. Pendapat aja. Lain kali cowok itu datang, terimalah baik-baik. Gak perlu dibuat rusuh seperti kemarin.”
     “Iya mas. Hehehe,” sahutku. Entah kenapa nyaman aja aku menjawabnya. “Tapi aku emang paling gak suka didatengin di tempat kerja.”
     “Soal itu sih, balik ke yang tadi aku ngomong. Ibu yang lebih tahu gimana itu cowok. jadi tentu ibu lebih tahu gimana sebaiknya.”
      “Hehehe, iya mas.”
      “Aduh, manggil ibu lagi.” Kata Mas Adi sambil tepuk jidat lalu tertawa. Hahahaha.
      “Gak apa-apa mas, hehehe.”
    Selanjutnya obrolan kami jadi lebih ringan. Aku bertanya tentang kerjaan Mas Adi yang jadi supplier air minum di Pustu kami. Dan ternyata kerjaan dia tidak cuma sebatas menyuplai di pustu kami saja. Tapi bahkan puskesmas lain di wilayah Kebumen pun mengambil air minum dari kiosnya.
     “Kurang tepat sih, kalau dibilang itu kios punyaku. Karena disitu aku cuma rewang. Itu kios punya bapak.” Kata Mas Adi yang belakangan aku tahu bernama lengkap Adi Harjuna.
    “Iya, kan anak ketiga dari lima bersaudara, jadi dikasih nama yang agak mirip-mirip wayang gitu. Hahaha,” tutur Bu Endang Minarni, salah satu sesepuh dalam battalion kami yang sudah menjadi pejuang VT kelas atas lebih dari dua puluh tahun.
    “Kenapa Bu Endang? Utami mau nikah sama si Adi po?” celetuk Mba Farida lalu terkekeh kompak bareng Bu Endang.
   “Nggak tahu ini, Mba Rizki. Doain aja, semoga beneran deh.” Timpal Bu Endang yang malah disahuti “Amin…” oleh Mba Farida yang lagi-lagi menebar tawa.
     “Waduuuh, Bu Endang ini lho, suka gawe-gawe kalau ngomong.” Aku mengelak dengan sedikit agak banyak panik. Gawe-gawe itu artinya mengada-adakan. “Bukannya tadi cuma ngomongin air minum yang habis ya? Stok cadangan juga habis karena mas yang suka nganter belum datang. Kok tahu-tahu ngarahnya ke situ, ya Bu? Lagian aku kenal juga enggak sama orangnya.”
     Bu Endang dan Mba Farida malah makin tertawa. Tempat kerja terkadang memang bisa menjadi oasis, tempat berkembang biaknya gossip dan gossip yang seringkali tidak kita inginkan. Apalagi dengan mayoritas penduduknya yang sudah kelas senior berat dalam kehidupan alias udah laku. Terutama Bu Endang, kalau lagi kumat, suka pamer soal anaknya yang kedua, si Weni yang baru lulus dari Fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesia dan tengah menjalani program KOAS-nya. Umurnya lebih muda dariku dan Yutika, tapi udah dapet booking dari seorang dokter muda.
     “Iwan sih udah siap,” tutur Bu Endang, membanggakan anak berikut calon mantunya. “Tapi kata saya sih, nunggu Weni selesai koas dulu lah, baru nikah.”
      AAARRGGG!!!
    Salah satu derita hakiki menjadi Bidan PTT berstatus single, yang membuat aku, Yutika dan Lintang yang masih junior imut-imut kece, berasa terbelangsak jatuh ke dalam jurang yang teramat dalam dan gelap. Kudu kuat-kuat mental dan rajin doa biar kuat menghadapi serangan-serangan semacam itu, serta biar cepat dipertemukan jodohnya.
       WUUZZ
       "Ujung-ujungnya tetap yang dibahas jodoh, ya?" Lintang tertawa. "Hahahaha," lalu nular juga ke Aku dan Yutika.


To Be Continue...

By: Hida


Artikel Terkait

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon