Igusti Sensei: 01. Don't Call Me Igusti!

Tags

 




01.

Dont Call Me Igusti!

 

Tidak selamanya sekolah itu menyenangkan. Percayalah, bahkan bagi sebagian anak, sekolah bisa jadi sebuah tekanan. Orang dewasa seringkali hanya bisa menyalahkan, saat kami sebagai remaja tidak tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang mereka harapkan. Padahal, justru merekalah, sosok yang banyak berperan dalam kami mencari jati diri kami. Dan kisahku menampilkan satu contoh nyata opini tersebut. Bahkan mungkin lebih. Ini adalah kisahku, sepenggal kisah tentang sosok guru yang menjadi kebanggaanku. Sesosok guru yang akan kukenang seumur hidupku, serta−sekolah yang menjadi tempat kenangan terindahku.

Igusti Susilowati, 16 tahun. Aku seorang siswi di SMA Negeri Satu Kutowinangun. Yah─mungkin tak banyak yang tahu nama sekolahku, yang hanyalah sebuah SMA di salah satu kecamatan sebuah kota kecil bernama Kebumen. Kota yang kalau dilihat di peta, hanya akan tampak sebagai titik kecil di bagian bawah peta pulau Jawa. Aku cukup menikmati masa-masa SMA-ku. Kata orang, putih abu-abu adalah masa paling penting dan paling indah dalam hidup. Jadi aku berusaha menikmatinya. Walaupun… aku baru saja memulainya di kelas X-07─yang kami lebih suka menyebutnya Cleopatra. Nama yang mengusung makna sebuah keagungan, keanggunan, serta keistimewaan. Andwe love it. Yah, kami menyebutnya unyu. Sebutan yang sama untuk seorang guru kesayanganku. Kesayangan kami semua di Kobra (Komunitas Bocah Ra Biso Anteng). Seorang guru, yang mampu mengubah duniaku, memberi warna pada canvas putih abu-abu kami, mengindahkan. Tidak secara keseluruhan, tapi perannya sungguh sangat significant.

Tidak ada yang khusus dalam kehidupan sekolahku. Kalau kata orang sekolah itu menyenangkan, kurasa tidak sehebat yang mereka ucapkan. Aku hidup─ups, maksudku, aku mungkin sekolah di tempat yang tidak seharusnya. Tempat yang dipenuhi kaum elit, dimana apa yang mereka inginkan selalu akan mereka dapatkan. Sungguh sangat berbeda denganku. Bahkan sebutlah bertolak belakang. Karena dalam perbedaan itu, terdapat kata “terlalu”, dengan huruf dicetak tebal atau miring. Garis bawah juga boleh kalau memang itu perlu.

“Assalammualakum.” Aku berangkat sekolah jalan kaki. Tentunya, setelah cium tangan bapak sama ibu. Bukan sesuatu yang baru sih. Hanya, kadang memang ada kalanya aku hidup dengan memandang orang lain. Orang lain yang berangkat sekolah dengan hanya duduk di atas jok motor mereka, dan melaju di jalanan aspal, sambil lempar senyum ke teman-teman yang mereka temui, termasuk aku. Tapi aku tahu, percuma hidup dalam buaian mimpi. Karena sebuah mimpi, cepat atau lambat pasti akan berakhir. Suka atau tidak suka, kita hidup dengan memandang kenyataan. Karena itu aku benar-benar benci orang memanggilku dengan nama depanku.

“Igusti.”

Jadi jangan heran kalau aku tak mengindahkan orang yang memanggilku dengan nama depanku. “GUSTI, kamu denger, gak!?”

Kecuali mungkin, kalau ada seseorang yang mau capek-capek mengeluarkan suara lantangnya untuk meneriakkan namaku. “Maaf, bapak manggil saya?” kataku, masih setengah acuh dan memasang muka tanpa dosa. Berusaha konsisten dengan sikapku terhadap orang yang memanggilku dengan nama depanku. Hanya, aku terpaksa harus bersikap sedikit mengalah kalau sudah menyangkut seorang guru. Dan itu berlaku untuk istilah, ‘selalu’. Kebanyakan dari mereka sama sekali tidak memberiku toleransi.

“Iya. Kamu ini tuli─atau emang kamu sengaja, sih!?” terdengar nada mengancam yang kentara sekali dari nada bicara Pak Isman. “Udah jelas-jelas dari tadi bapak itu manggil kamu, Gusti!”

Pak Ismanto, guru Ekonomi, sekaligus juga guru paling menyebalkan yang pernah kutemui semenjak aku masuk SMA. Dia sukses menyaingi Pak Pardjo dalam hal menyebalkan. Dan kurasa Pak Isman pantas dapat Piala Oscar untuk katagori Guru Paling menyebalkan sedunia. “Pak Pardjo emang siapa, Sus?” Liana, sahabat sekaligus teman sebangkuku bertanya. Ia berkata dengan lembut dan sangat pelan, berusaha agar tidak terlihat Pak Isman kalau kami sedang mengobrol di tengah ia menerangkan pelajaran. “Guru Fisika-ku waktu kelas IX SMP. Dia itu sebelas dua belas nyebelinnya sama Pak Isman.” Bisikku. Dan kuyakin Pak Isman tak mendengarnya. Sampai kemudian kudengar teriakan suaranya yang identik parau. Kalau kata Ardhani, Pak Isman tipe orang yang paling gampang diketahui oktaf suaranya. Mungkin karena hobi beliau yang ekstrim barangkali. Berteriak.

“Gusti! Kamu lagi, kamu lagi!” serunya. Kurasa dia memang masih belum puas memarahiku enam belas menit lalu. Ya, aku menghitungnya. Aku menghitung tiap menit yang berlalu selama jam pelajaran Pak Ismanto. Dan rasanya benar-benar saangat lama.

Lain lagi dengan wali kelas kami, namanya Bu Sumi ─ ah, aku lupa nama panjangnya siapa. Yang jelas kami memanggilnya Bu Sum. Kadang, malah kami plesetkan jadi Bu Cumi. Kalau kami lagi kesal, tak jarang kami seenaknya saja nyebut dia Cumi-cumi.

Hehe…

Dia baik. Baik banget! Selalu berbicara dengan nada suara lembut dan sopan. Bahkan meski sedang marah. Tapi justru sisi baik itu yang aku tidak suka dari dirinya. Karena tiap kali dia marah, aku jadi bingung harus berkata apa, mengingat bahkan dalam Bu Sum marah pun, tutur katanya terdengar tetap halus dan sopan. Terlalu sopan malah. Guru tipe yang gampang diremehkan muridnya. Aku bisa berkata demikian, karena aku dan teman-temanku sendiri memang begitu. So, baik itu memang baiknya jangan terlalu.

            Haaahhhh…

            Aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya sekaligus dalam satu kali ledakan. Dan agaknya, Liana menyadari adanya aura kebosanan yang tengah berputar-putar mengelilingi sistem kepalaku. Aku sama sekali tidak bersemangat, dan suasana hatiku itu sepertinya jelas terlihat di wajahku yang entah kenapa, tiap kali aku bercermin… selalu saja yang aku lihat itu sosok Asmirandah dan bukannya wajahku. Atau, memang aku masih sebelas dua belas yah, sama dia?

GUBRAK!

Kulihat Liana terus saja memperhatikanku. Menatapku geli yang dengan wajah kusangga, berusaha bersikap seolah aku memang memperhatikan Bu Ani yang tengah menjelaskan pelajarannya, sambil menuliskan berbagai tulisan arab di papan tulis. Aku sama sekali tidak peduli. Hanya pura-pura mengerti, tiap kali guru berkacamata itu bertanya pada kami. Tiap kurang lebih Sembilan menit sekali beliau bertanya, apakah kami sudah paham penjelasannya atau belum. Guru yang sama sekali tidak bisa menggugah selera belajar kami para muridnya. Aku bahkan sampai tahu kebiasaannya dalam mengajar. Terlalu disiplin soal waktu adalah sifat paling menyebalkannya.

            Sebuah situasi salah kaprah yang benar-benar parah dalam kehidupan sekolah. Bagi kami, saat-saat menyenangkan selama bersekolah hanyalah─saat kami menantikan bunyi bel yang menjadi peluit kebebasan kami. Karena begitu bel berbunyi, maka kami akan langsung bersorak keluar kelas. Beberapa anak cowok justru bersikap lebay dengan berlari seperti Cristian Ronaldo saat menembakkan gol ke gawang lawan. Aku sih biasa saja. Tidak ada yang khusus. Hanya berbenah dengan santai, melemaskan otot-otot tangan dan pinggang tanpa peduli pada mereka yang sok heboh hanya karena kami terbebas dari neraka kebosanan kami.

            “Sus, mau ikut gak?” kata Nova yang langsung dengan semangat kujawab, “Kemana, beb?” mataku sekejap berinar. Berharap ia akan punya rencana yang cukup brilliant─guna menghilangkan segenap rasa jenuhku untuk lima belas menit masa istirahat.

            “Kantin. Laper nih. Pengin ngemil. Apa kek. Yuk!” Va meringis, hantamkan lirikan pada aku dan Liana. Yah─memang apa yang bisa kuharapkan dari lima belas menit?

Agak kecewa sih. Tapi tak perlu menunggu lama, langsung saja kutarik tangannya dan kami bertiga pun membaur menuju kantin.

Aku bukan tipe yang pilah-pilih dalam berteman, tapi diantara semuanya, aku paling deket sama Nova dan Liana. Kalau pun ada anak cowok─mungkin si Ardhani, striker terbaik yang dimiliki kelas kami dalam tim sepak bola dan futsal. Sayangnya dia payah dalam takro. Tapi pantes juga sih, dapat two thumbs up kalau soal musik. Dia itu─cowok yang kusebut, jenius. Dalam beberapa hal.

“Eh, kita ke tempatnya Bu Kamal aja yah, Va?” usulku sambil lalu. Begitu kami bertiga keluar dari lingkungan kelas, kami akhirnya berjalan dengan santai seperti yang Liana minta. “Katanya rolade bikinan Bu Kamal itu enak banget loh. Aku jadi pengin nyoba nihh.”

            Nova dan Liana kompak ketawa. “Kamil Sus, bukan Kamal,” Liana meluruskan. “Ini kita bedua emang niatnya gitu. Iya kan Va?”

Nova mengangguk sambil pasang senyum kuda.

Aku bersorak riuh menyambut jawaban Liana dan senyum Nova yang−WOW. Kucubit pipi kedua sahabatku itu dengan penuh gemas satu persatu. Mereka berusaha mengelak, tapi aku tak begitu saja membiarkan mereka selamat dariku. Mereka berhasil kucubit, tertawa geli yang membuatku menggelak tawa penuh kemenangan. Hanya ujungnya, aku langsung dapat sorotan tajam mata kedua sahabatku yang disusul kritikan Liana. “Hoe, biasa aja lagi beb… gak usah sok heboh gitu kan bisa?! Ababil banget sih jadi orang!?”

Aku cuek. Dan memang beginilah aku. Jangan coba merubah siapa aku! Wow…

 

Fuuh…

            Kantin Bu Kamil cukup jauh dari kelasku yang terletak di sudut belakang sekolah, jadi butuh waktu dua kali lipat hingga akhirnya kami sampai di depan kantin.

Oh, shit banget!

Mulut kantin benar-benar penuh. Tak bisa kubayangkan berapa anak yang berdesakan keluar masuk kantin cuma untuk sekedar jajan. Mulutku berdecak saking kesalnya. “Sialan. Ini gimana kita masuknya!?” ketusku. Sekali ini Liana sama sekali tidak memprotesku. Kurasa dia punya perasaan sama kesalnya denganku. Yah─aku memang beruntung terlahir dengan mulut blak-blakan. Sangat jarang mengalami yang namanya ganjalan perasaan.

Peace!

“Gila. Penuh banget yank!” keluh cewek yang sering kami panggil Va atau Opa itu. Wajahnya nampak ditekuk, bibir mengerucut. Khas dia banget kalau sedang kesal.

“Aduhh, gimana nih, Sus?!” Liana hembuskan nafas berat, sama kecewanya dengan Va. Mereka berusaha mengintip ke dalam, namun sepertinya memang penuh dan nyaris tidak ada celah untuk masuk tanpa harus berdesakan. Nyaris.

Aku yang memang sejak awal ingin sekali makan rolade Bu Kamil, jelas jauh lebih kesal dari mereka. Bayangkan saja, kami membuang waktu istirahat kami yang sangat berharga, dan tidak ada yang akan kami dapatkan!? “Hush, kita udah jauh-jauh kemari, masa gak dapet apa-apa, sih!?” kataku, tersenyum penuh binar pada kedua sahabatku. Aku sungguh tidak ingin mereka kecewa setelah kami akhirnya, hampir berhasil. “Udah, kalian bedua tunggu aja di sini. Biar aku yang maju. Oke!?”

Kutepuk punggung Opa dan Liana yang menatapku dengan heran, aku pun siap maju. Jilbab aku rapihkan, lengan baju aku sisihkan─sedikit ke atas yang hanya berhasil kuangkat beberapa centi, tidak lebih. Dengan tekad berkobar, aku pun masuk ke medan perang.

Lets Fight!

Aku berhasil melewati satu, dua, lalu lima anak sekaligus dan berhasil masuk ke bagian dalam. Kulihat ibu si empunya kantin benar-benar sibuk, dengan tubuhnya yang agak gemuk, ia dengan sabar dan cekatan, melayani semua yang masuk ke kantin satu persatu. Mataku berputar, menyapu seluruh meja saji, mencari alasan kami jauh-jauh ke kantin yang kacau persis sebuah medan perang. “Roladenya Bu! Roladenya masih gak Bu!?” aku berteriak, persis seperti yang juga dilakukan anak-anak lainnya. Semua orang berteriak─ada yang meneriakkan nama jajan yang mereka cari seperti yang aku lakukan, ada juga yang meneriakkan sesuatu yang entah apa. Mungkin cuma sekedar ingin lebih menyemarakkan suasana. Wew! Bahkan tanpa seperti itu juga, kantin sudah benar-benar semarak.

Yess!

Untuk kedua kalinya dalam sehari, aku meneriakkan kata itu. Tiga rolade ada di tanganku, dan aku siap kembali pada Va dan Liana dengan membawa piala kemenanganku.

“Beeeebbb… aku dapet. Aku dapeeet!” aku berseru hepi. Seperti seorang tentara yang berseru penuh kebanggaan, karena berhasil kembali dari medan tempur dengan membawa medali kemenangan. Atau, seperti anak kecil. Fiuuh… terserah lah.

Nova dan Liana sontak melonjak kegirangan. Bahkan mereka sempat memekik saking gembiranya. Aku datang membawa apa yang sangat kami inginkan. “Yeeaaaa…!!!”

Dan pada saat itulah─saat aku benar-benar sedang dilambungkan bahagia kemenangan besar yang aku dapatkan, seseorang menabrakku dari belakang.

Dug!

Aku terkejut─ketiga rolade yang ada di tanganku terhempas. Aku berusaha menggapainya selagi masih melayang di udara. Tanganku mati-matian berusaha meraihnya, bahkan aku hampir melompat, namun akhirnya benar-benar jatuh ke tanah. Aku gagal menyelamatkannya.  Kami memekik hampir bersamaan, ketika dalam sekejap, jerih payahku yang telah melewati segala rintangan tergeletak di tanah.

“Heh! Mata kamu itu taruh mana sih!? Jalan aja nabrak!” bentakku. Emosiku langsung melompat di luar kendali. Tapi begitu aku berbalik dan melihat siapa yang menabrakku, aku pun terkejut dan membungkam seketika.

Kalau sebelumnya aku bilang, aku bersyukur terlahir dengan mulut blak-blakan, maka sepertinya kali ini aku sedang menghadapi sisi buruknya.

Shit!

“Bilang apa kamu barusan!?”

Orang yang baru saja menabrakku dan kumaki, ternyata seorang kakak senior. Dan yang paling menyebalkan, adalah karena dia orang yang sama, dengan yang paling membuatku kesal selama masa MOS kemarin. Aku tidak akan lupa namanya. Aini!

“Apa!? Gak terima!?” tantangku. “Jelas-jelas situ yang salah kan!? Situ yang nabrak!”. Aku sama sekali tidak takut. Kali ini lain dengan saat MOS kemarin. Status kami sekarang setara. SISWA! Tidak ada peraturan junior tidak boleh mendendam terhadap perlakuan Senior yang mana berlaku selama MOS berlangsung.

“Ohh, udah berani kamu yah, sama kakak kelas!? Siapa suruh bediri di tengah jalan!” Aini melotot ke arahku. Kentara sekali dia sangat marah dengan sikapku yang tidak memandangnya sebagai sosok senior yang dalam bahasanya… dia bilang ─ ‘terhormat’. Maaf saja ya, ini bukan sinetron dimana tokoh utama itu lemah dan selalu jadi yang mengalah. Apalagi dengan situasi dimana dia yang salah.

“Eh, Sus. Udahlah, gak usah bikin masalah. Ini kan di sekolah, tau. Bisa gawat kalau sampai ketahuan guru.” Bisik Va, memegang bahuku, berusaha menjagaku dengan perasaan penuh cemas. Dia paham sekali kalau emosiku sebentar lagi pasti meledak lagi. Aku mengerti sikap ketakutannya itu memang wajar. Tapi di sisi lain, aku memang selalu bermasalah dalam hal kesabaran. Aku buruk dalam hal itu.

            Dan yang paling membuatku kesal, adalah karena Liana kemudian justru berkata, “Maaf, kak. Kami gak ada maksud buat berani sama kakak kok. Cuman…”

Arrgg…!

            Ucapan Liana benar-benar membuatku makin kesal. Emosiku naik ke tingkat yang lebih tinggi. “Ngapain sih, beb!? Gak takut aku sama orang macam dia!” suaraku meninggi. Dan kulihat, pandangan mata Aini berubah. Aku yakin dia makin merasa diremehkan. Karena itu dengan wajah memerah, tanganya segera bergerak cepat. Entah apa yang akan dilakukannya, tapi hal itu segera diurungkannya saat kudengar seseorang berseru.

            “Aini, tunggu!” yang berseru menyuruh Aini berhenti tak lain adalah anteknya sendiri. Dua orang temannya mendekat, membisikkan sesuatu, entah apa. Tapi kurasa aku tahu intinya.

            Aku palingkan wajahku ke arah yang dituju lirikan mereka. Tak jauh dari kami, guru BK kami tampak berjalan dan tepat menuju arah kami. Aku pun segera ambil sikap. Berpura seolah tidak ada apa-apa diantara aku dan Aini yang berdiri dengan saling menatap kesal. Ada api yang berkecamuk dalam pandangan kami.

            Nova dan Liana merapat, mereka sama-sama meremas tanganku, tak melepas pandangan mereka dari guru BK kami yang semakin mendekat. Aku tahu apa yang mereka cemaskan. Berkelahi di lingkungan sekolah memang terlalu beresiko, karena point tingkat iblis siap menanti. Dan mendapat point tinggi di semester pertamaku, itu jelas ide yang buruk.

            Di lain pihak, Aini dan dua anteknya memutuskan untuk pergi. Sambil melirikku tajam, cewek bermuka bulat itu berkata, “Awas kamu, yah!” katanya dengan jelas sekali nada ancaman dalam ucapannya. Sikap mengancam seperti itu, jelas kuterima sebagai bentuk tantangan. Aku sunggingkan senyum tanggung, balas menatapnya tak kalah tajam. Sementara itu, Bu Putri−nama guru BK kami, ternyata telah berada tepat di hadapan kami sejarak tiga langkah. Kuharap dia tak sempat melihat rona mukaku yang diwarnai merah amarah.

            Lain dari yang kami khawatirkan, Bu Putri tersenyum dan melewati kami begitu saja. Ia sempat memegang sebelah pundakku yang membuat kecemasanku sedikit terlihat lebih jelas di mukaku. Aku tahu karena aku benar-benar serasa akan tamat, sampai akhirnya kudengar suara Bu Putri yang dengan lembut bertanya, “Hayo, jajan apaan Susi?”

            Aku terkejut untuk dua detik lamanya, tanpa sadar tersenyum lemas begitu saja seraya berkata, “He, iya ni bu. Mau jajan malah penuh gini kantinnya…” aku melirik ke tiga rolade-ku yang tergeletak di tanah, tak jauh dari kami. Berharap Bu Putri tidak akan melihatnya dan bertanya.

            “Kok, cuman Susi yang ditanya, kami enggak, bu?” Nova menimbrung seketika. Kurasa ia tahu pasti nada gugup yang terdengar jelas dalam intonasi suaraku yang kacau. Tapi ia benar-benar pandai memainkan perannya. Ucapannya benar-benar terdengar sangat natural. Kami selamat berkat dia yang berhasil mengalihkan Bu Putri dari aku dan sikap nervous-ku. Liana juga ikut membantu hingga perhatian Bu Putri sepenuhnya teralih dariku. Kami berhasil.

            “Ya udah, ibu lagi ditunggu nih. Biasa, resiko guru baru, dapet piket wira-wiri. Duluan yah.” Bu Putri lambaikan tangannya dengan anggun, tersenyum, kemudian masuk membaur dalam kerumunan kantin yang telah sedikit mereda. Senyumnya adalah hal terakhir yang kulihat dari kehadirannya. Jadi kami pun lega. Beberapa anak lain yang juga sempat mendengar dan tahu adu bacotku dengan Aini, sepertinya memilih untuk tidak terlibat dan hanya diam saja.

            “Huff,” Liana bernafas lega. Va menepuk punggungku, setengah berteriak ia berkata, “Gila. Tadi itu hampir aja!” gemasnya. Menggambarkan rona muram di wajahnya yang langsung Liana bungkam dengan kode, “Ssssttt…!”. Kami tidak mau mengambil resiko Bu Putri mendengarnya dan harus merasa aneh dengan sikap kami. Sementara pandanganku, langsung saja berkelana, mengitari sekelilingku. Barangkali saja Aini masih mengawasi kami dengan sorot matanya yang selalu menatapku dengan sinis itu. Ada rasa lega mengetahui cewek begundal super belagu itu tidak lagi kulihat. Namun masih kesal juga, mengingat apa yang baru saja terjadi. Tanganku mengepal penuh geram dan gigiku bergemeletak saking kesalnya.

            “Terus, ini mau diapain, see?” Va menyungut. Menyodorkan sisa-sia rolade yang dipungutnya dengan muka merana.

***

Dua hari berlalu sejak kejadian dengan Aini di kantin. Kami memang beberapa kali bertemu setelah itu. Namun tidak ada sengketa lanjutan diantara kami. Hanya ada adu pandang di setiap perjumpaan kami. Sepertinya dia tidak berniat memperpanjang masalah. Meski aku ragu dia tipe orang sesimpel itu. Maksudku, yah… kurasa dia bukan tipikal orang yang mau menerima kekalahan begitu saja.

            Yah─aku sih udah lupa. Lebih tepat kubilang, aku sama sekali enggan peduli. “Selama itu cewek gak cari gara-gara lagi sih, aku fine aja!” kataku, menyambut satu keripik yang Va tawarkan dan melahapnya dalam waktu empat detik. “Masa sih, see? Terus gimana sama nasib rolade kita yang gak jadi bisa kemakan itu? Kan sayang…?”

            “Ya terus mau gimana lagi?” aku angkat bahuku ringan. “Orang udah kejadian, ya udah lah…”

            Ternyata keripik bawaan Va enak juga. Tanpa pikir panjang, langsung saja kusikat lagi keripik rasa keju panggang asli bikinan keluarga Nova itu. “Iya sih, see.” Kata Va. Sepertinya dia masih belum bisa sepenuhnya rela dengan rolade kami. Padahal, keesokan harinya, Bu Kamil yang sempat mendengar dan tahu kejadian yang kami alami itu, mau baik sekali menyisakan roladenya untuk kami. Jadi kami bisa makan rolade yang memang enak banget itu tanpa harus berdesakan.

Yummy…

“Eh, tapi ini ngomong-ngomong, si Liana kemana sih, Sus? Tumben jam segini belom keliatan!?”

            “Tau.” Sahutku, tetap acuh sambil menikmati keripik yang masih memenuhi mulutku. “Palingan bentar lagi juga nongol. Baru juga jam berapa!?”

Kusambar bungkus keripik dari tangan Va dan kulahap semua sisa keripik yang ada. Rasanya benar-benar enak−adiktif. “Yah, jangan dihabisin dong, Sus. Aku gimana?” Nova panik dan langsung bergerak kilat menyambar bungkus keripik di tanganku. Mampus aja dia. Semua isinya telah habis aku sikat.

Haha…

“Nah, itu Liana.” Kulemparkan pandangan ke pintu kelas, tepat di titik Liana berada. Namun temenku yang punya nama Novaliana Marheni itu justru sibuk meratapi keripiknya yang habis aku lahap.

Liana masuk dengan senyum lebar menghias kedatangannya. “Tebak, beb!” serunya heboh. Kami menyambutnya dengan alis terangkat dan sebuah tanda tanya bertengger di atas kepala kami. “Dateng-dateng udah main heboh aja! Ada apaan sih, Se!?” kata Va yang sama sekali tidak Liana indahkan. Dilemparnya bungkus keripik yang telah diremasnya ke arahku sambil pasang muka menyungut. Aku hanya tertawa kecil dan balik melempar plastik yang telah sobatku gubah jadi sebuah bola sampah itu dengan acuh. “Kalian pasti gak bakal percaya beb!” Mata Liana menyipit sementara tangan kanan merogoh ke dalam tas gendongnya. Nada bicaranya terdengar seperti menekankan ucapannya. Dan ia sama sekali tidak peduli dengan tanggapan kami. Padahal kami sedang asyik main lempar bola plastik hasil kreatifitas Va dengan bungkus keripiknya tadi.

Huff…

Sobatku penyuka warna gothic itu lemparkan tasnya pada Va, lalu mulai bercerita. “Percaya gak, kalian beb?” mulainya. Aku bosan dengan kebiasaannya mengulang-ulang kalimat. “Kemaren aku diajak kakak jalan-jalan─trus… aku dibeliin ini…, Taraaa…!!!”

Dengan mata berbinar dan senyum tak hentinya mengembang, Liana dengan bangga angkat tangan kanan yang semenjak tadi disembunyikannya. Menunjukkan sesuatu yang langsung membuat mata kami ikut berbinar. “NOAAAH…!!!???” aku dan Va berteriak serentak. Dan hanya butuh tak lebih dari dua detik untuk aku mengambilnya dari tangan Liana. Nova kurang beruntung karena tanganku bergerak satu detik lebih cepat darinya. “Eh, ini beneran CD aslinya, Na!?” aku masih terkejut dan tak bisa menyembunyikan rasa antusiasku. “Gilaa kamu Na! ini kan baru aja rilis dua hari kemaren. Kamu udah punyaa!?”

“Asli dong…!” sahut Liana dengan senyum semakin lebar, sementara Va sibuk mencoba merebutnya dari tanganku yang sudah tentu tidak kubiarkan begitu saja. “Ihh, sini aku pinjem, Sus…!” rengeknya, membuatku jadi semakin ingin menggodanya. “Iya bentar, Opaaa. Sabar napa sih. Aku juga baru aja megang!”

Sialnya, setelah itu beberapa teman juga ikut berkerumun dan seseorang berhasil merebutnya dariku. “Hoe, mau dibawa kemana itu! Aku belum selese liatnya, hoe!” aku berteriak, memaki, tapi CD itu telah terlanjur pergi. Liana berusaha mengejarnya dan begitu juga dengan Va serta beberapa teman lainnya. Lalu sisanya─tinggal aku yang lebih memilih untuk diam di kursiku. Duduk dengan kesal sambil memperhatikan kehebohan teman-teman yang sungguh sangat tidak wajar. Lebe banget!

            “Lebe banget!” satu suara membuatku terhenyak dari perhatianku pada segerumunan lebah yang tengah mengejar madu mereka itu. Kebetulan kah? Karena ucapannya benar-benar persis dengan apa yang aku rasakan. Persis seperti yang aku pikirkan. Belum juga sempat aku menyahuti ucapannya, suara itu sudah kembali berkata, “Aku yakin, pasti itu yang ada di kepala kamu sekarang ini kan, Sus?” cowok rambut afro yang duduk di kursi sampingku itu tertawa. Bisa kutebak─dan memang jelas yang bicara itu si Ardhani. Alisnya terangkat sebelah saat aku berpaling ke arahnya dengan sikap masam. “Tumben gak ikutan!?” kataku. Heran banget aku melihatnya duduk diam tidak ikut seheboh teman-teman lainnya. Apalagi jelas ini soal musik dan aku kenal banget gimana dia ngefans sama Noah.

            Cowok yang biasa aku panggil Dhani atau si Pengos karena kulitnya yang rada-rada item itu, pasang senyum lebar ke arahku. Ditimangnya hp kebanggaannya di depan mukaku, lalu berkata dengan senyum tetap menghias wajahnya, “Aku udah punya semua lagunya tuh─bahkan dari sebelum albumnya keluar di pasaran.”

            “Yang bener, Ngos!?” aku sontak berseru kaget. Muka masamku hilang seketika. “Minta dong!” dalam sekejap, hp Ardhani telah berada di tanganku. Memang belum ada yang bisa menandingi kecepatanku dalam menyerobot sesuatu yang aku inginkan.

            “Eh, gila main serobot aja luu…!” Ardhani segera berkilat balik menyambar hp-nya dari tanganku.

            “Yaela, pelit banget sih! Dimintai lagu aja gak bolehhh!” aku pasang mata pada mode melotot, sekali lagi gerakkan tanganku menyambar. “Aku tau. Palingan kamu juga hasil download bajakannya, kan!?” nadaku sedikit sinis. Sengaja agar si Pengos setidaknya berubah pikiran, jikalau memang ia tidak berniat untuk membiarkanku mengkopinya ke hp-ku. Namun sekali ini Ardhani berhasil menyelamatkan hp-nya dari cengkramanku. Aku gagal merebutnya dan terpaksa sedikit merengek sebelum akhirnya aku benar-benar dibakar emosi. “Kalo emang gak boleh─harusnya dari awal tuh gak usah pamer. Kribo!” sungutku. Merasa kesal sekali dengan sikap Ardhani yang ketat banget. “Makan tuh lagu!”

            “Yah, yah−jangan marah dong Sus…” kata Dhani. Terdengar sekali nada penyesalan dari suaranya yang merendah dari sebelumnya, saat dengan sok ia berkata, “Tidak.”

“Gak butuh!” aku menyahut ketus. Benar-benar terlanjur kesal dengan sikapnya. Aku pun beranjak dari tempat dudukku. Pergi ke tempat dimana tidak akan kulihat mukanya yang sok, hanya karena 25% waktunya dalam sehari dihabiskannya untuk duduk puas di depan monitor─dan bertualang di dunia maya.

            “Ei, beneran marah nih,” kata Ardhani. Entah sejak kapan ia ngekor di belakangku, sementara aku justru sedang berniat menghindarinya. “Aku kan cuma becanda, Sus. Iya ini aku kasih dahhh…” sekarang giliran dia yang merengek.

            Huh!

            “Gak jadi! Liana juga udah punya. Asli lagi! Aku minta sama Liana aja. Minggir sana!” nada suaraku berubah, sedikit lebih tinggi dan tanpa sengaja mataku pun melotot menyorot lebar. “Udah, minggir sana. Aku mau lewat!” tandasku. Dengan kasar dan dengan nada suara lebih tinggi dari sebelumnya. Kurasa ini harus yang paling tinggi. Lebih dari ini, bisa-bisa dikira aku ini korban tindak asusila di sekolah lagi.

            Gak lucu…

“Ya udah kalau beneran gak mau.” Kata Ardhani. Sekarang ia sudah berhenti jadi ekorku. Tapi aku tidak suka nada bicaranya. Kesannya aku ini bakalan rugi, kalau tidak jadi mengkopi lagu dari dia. Jadi aku lalu berbalik dan mencibir ke arahnya.

Absurd!

Aku menoleh ke kanan kiri. Berusaha mencari dua kekasihku tercinta yang tak kuketahui dimana mereka sekarang ini. “Mereka pada kemana, si?” gumamku sambil berdiri dengan tololnya di tengah pintu kelas. Aku terus melangkah sambil pasang mata dan jelalatan mencari Liana dan Nova yang entah kemana, sampai kemudian seseorang menabrak bahuku hingga aku terdorong dan hampir saja jatuh. Aku berhasil menjaga keseimbanganku hingga aku tak harus jatuh, namun tidak dengan yang menabrakku.

Brukk!

Lagi-lagi. Setelah kemarin dengan Aini, sekarang siapa lagi!? Wajar aku merasa kesal karena mengingatkanku dengan kejadian di kantin. Apalagi kejadiannya masih cukup jelas untuk kulupakan. “Jalan itu matanya di pa…”

Ups!

Aku tak jadi melanjutkan ucapanku. Kurasa aku memang harus sedikit bisa mengontrol emosiku. Aku langsung bergerak menolong begitu aku tahu siapa yang menabrakku.

“Eh, kamu kenapa, Yosh?” tanyaku, sadar bahwa yang menabrakku ternyata Yoshi, cewek teman satu kelasku yang selalu tampil dengan rambut ditali ekor kuda dan berperilaku sedikit tomboy. Semua orang bilang muka kami sama.

Mitos!

Yoshi berusaha merapihkan beberapa bukunya yang berserakan dan berdiri. Namun herannya ─ cewek yang hobi banget make serba-serbi warna biru muda itu bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Yoshi hanya berdiri tanpa mengucapkan sepatah pun kata. Menoleh padaku sejenak, lalu beranjak pergi berjalan menuju tempat duduknya. Dia benar-benar hanya pergi begitu saja. Dan jelas aku heran dengan sikap acuhnya yang super duper kelewatan itu.

“Yoshi. Kamu gak pa-pa, Yosh!?” tanyaku, bergegas mengikutinya. Jadi ekor.  Namun aku benar-benar tidak diindahkannya. Sekali ini aku tidak emosi─hanya rasa heran dan penasaran, yang membuatku bergerak begitu saja. Dia tetap mengacuhkanku, Yoshi cuma berkata, “Udah gak pa-pa, kok.”

Parahnya, dia mengatakannya dengan tanpa melihatku. Dan itu jelas masalah buatku! “Kamu ini kenapa, si? Udah nabrak, gak minta maaf, udah gitu ditanya malah diem aja!” tanyaku bertubi. Mukanya tertunduk dan aku tak bisa melihat dengan jelas raut yang terlukis di wajahnya. Jadi aku pun lantas menundukkan wajahku, coba mengintip sosok Yoshi. Meski kami tidak begitu dekat, tapi setidaknya, aku tahu dia tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya.

“Apaan si. Aku baik-baik aja kok!” Yoshi tapiskan tanganku dengan kasar, lalu palingkan wajahnya dariku. Ada nuansa gugup yang jelas sekali dari suaranya yang sedikit bergetar. Aku sama sekali tidak mengerti─seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatiku tentang diri Yoshi. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa itu. Dan sebelum aku sempat bertanya kembali, Yoshi telah berlalu pergi.

“Sus, ngapain masih di situ?” kudengar salah seorang teman berseru memanggilku. “Buruan, upacaranya udah mau mulai tuhh!”

“Hah!?” aku terkejut. “Emangnya udah bell, yah?”

Aku bergegas  lari keluar kelas. Dan memang nampak sepi sekali. “Wah, beneran!” seruku seraya berlari. Jelas semua orang telah berkumpul di lapangan. Karena hanya beberapa yang kulihat masih berjalan dan berlari-lari kecil di koridor sepertiku. “Gawat! Topi, topi, topi…!!”. Tiba-tiba aku sadar kalau aku belum memakai topi. Benar-benar apes. Di saat kritis seperti ini justru aku lupa dengan topiku.

Aku terpaksa harus kembali ke kelas. Lari sekencang yang kubisa, dan dengan cepat menuju lapangan, setelah kupastikan topi osis bertengger di atas kepalaku dan bukannya topi pramuka.

“Ya ampun, dari mana aja sih kamu, se?” kudengar suara Va dari sampingku. Liana juga kulihat ada di sisi paling depan. Tapi nafasku masih  memburu, jadi aku butuh waktu sebelum aku menjawab pertanyaan sahabatku itu. “Sialan. Dari tadi aku tuh nyari kalian, tau. Gak taunya malah udah di sini!” kataku. Kesal juga mengingat aku jadi yang terakhir sampai di barisan. “Lho, kok Yoshi gak ada?” tanyaku setengah berbisik. Pandanganku berkeliling mencari, tapi tetap saja Yoshi tidak aku temukan dalam barisan. Nova sama sekali tidak terkejut. Dia hanya angkat bahunya ringan dan berkata, “Tau. Belom berangkat kali dia…?”

“Ah, jelas-jelas barusan aku ketemu dia di kelas,” tuturku. Aku makin penasaran dengan si Yoshi. “Masa si, gak ada? Aku kirain, tadi itu anak langsung kemari.”

 

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon