Igusti Sensei: 03. Lovely Igusti

 


Igusti Agung Putri Yunitasari. Aku tidak pernah benar-benar ingat nama lengkapnya yang sepanjang kereta KRL itu, sampai saat hari dimana aku mulai mengaguminya. Dia itu… beda. Selain cantikya yang selangit tembus, aku merasa kalau dia punya banyak kelebihan lain yang tak dimiliki cewek cantik pada umumnya. Bahkan aku menyebutnya… indah. Dan di luar semua kelebihannya sebagai seorang cewek, dia adalah sosok guru yang menurutku keren.

            Mulanya aku begitu sungkan dengannya. Aku selalu merasa kesal tiap kali para guru selalu saja memanggilku dengan nama depanku. Tapi, seolah mengerti diriku, Bu Putri tak pernah sekalipun memanggilku Igusti. Bahkan sejak pertama kali beliau masuk mengisi mata pelajaran BK di kelasku, aku adalah diriku sendiri. Susi. Dan kalau bukan karena masalah Yoshi, mungkin aku tak akan pernah punya hari-hari indah sekolahku yang selalu saja kuhabiskan bersama Bu Putri.

            “Mas, liat temenku, gak?” tanyaku pada Mas Riwa, satpam sekolah kami. Kulihat dia tengah asik memainkan hp-nya sambil senyam-senyum tak jelas.

            Wew…

            Pria blasteran Negro Afrika jawa itu nampak sembunyikan rasa terkejutnya saat menyadari kehadiranku dan Echa di depan kantor kecilnya. Sebuah pos keamanan yang letaknya tepat di samping gerbang utama sekolah. “Siapa yah?” ujar orang bernama lengkap Riwayanto tersebut. Alisnya terangkat, matanya terpincing sebelah, mencoba mengingat. “Dari tadi gak ada yang keluar lho, Sus.” Katanya.

            Kami berdua pun akhirnya pergi dengan seraut wajah heran bercampur segudang tanya. “Duhh, itu Yoshi bikin orang pusing aja, sih. Asuk!” aku memaki penuh kesal. “Sebenarnya kemana sih itu si Pipit!? Main pergi aja seenaknya. Kan kita yang susah jadinya!”

            “Iya nih. Gak biasanya banget itu anak sok-sok ngilang gini!” kata Echa. Aku bisa dengan jelas melihat rona cemas yang tak kunjung pudar dari wajahnya yang nampak mendung, serta mulutnya yang tak banyak bicara sedari tadi. Sepertinya memang inilah Echa dalam mode galaunya. Hening…

            “Eh, tapi tadi kan kita belum coba nyari ke UKS, yah Cha?”mendadak gambaran si Yoshi mungkin sakit kronis dan terkapar di ruang UKS melintas begitu saja di kepalaku. Merintih-rintih dan aku akan pasang tawa muka setan ketika nanti aku menemukannya disana.

            “Iya juga sih.” Sahut Echa, kami pun sepakat menuju ke UKS.

            “Lho, kamu berdua ini kok di luar, gak di kelas?” sesosok tinggi dengan kepala sedikit botak muncul di depan kami, langsung mengajukan pertanyaan yang terdengar seperti menggugat. Pak Wihoro.

            “Iya nih pak. Kita lagi disuruh Bu Ani,” jawab Echa seketika. “Ini baru mau balik ke kelas.” Tambahnya, tersenyum dan menarik tanganku menjauh dari guru BK yang akrab disapa Pak Wi itu.

            “Echa, Susi, lagi ngapain kok gak ikut pelajaran?”

            Ups…

            Siapa bakal mengira kalau kami akan disambut senyum Bu Putri begitu kami lepas dari Pak Wi. “Ini kita kan lagi disuruh sama Bu Ani, bu,” sahutku cepat. Tidak sudi kalah cepat dari Echa dua kali berturut-turut dalam sehari. Dan aku mengatakannya dengan rasa  gembira. Entah kenapa.

            “Liat Yoshi gak, bu?” tanya Echa. Wajahnya masih saja memproyeksikan kecemasan hatinya yang terus saja memikirkan Yoshi. Membuatku kesal.

            “Yo…shi.” Guru yang masih baru berusia 25 tahun itu menggumamkan nama Yoshi berkali-kali. Matanya yang agak sedikit lebar namun terus terang serius cantik itu, terus menyisiri halaman sebuah buku. Aku pernah satu kali melihat isi buku yang saat ini tengah dilihatnya dengan seksama itu. Isinya semacam absensi dimana semua nama murid yang ada di bawah pengawasannya sebagai guru BK tercantum, berikut keterangannya. Sebutlah, itu merupakan kumpulan biodata kami. “Oh…,” seru Bu Putri empat detik kemudian. Sepertinya ia berhasil menemukan siapa Yoshi yang kami maksud. “Yoshi Ade Septiani?” katanya kemudian.

            “Iya bu.” Aku dan Echa menyahut kompak.

            “Saya gak liat sih,” kata Bu Putri, menyapu setitik harapan kami. “Emangnya kenapa sama dia? Sakit?”

            “Gak tau juga nih, bu. Tau-tau aja dia ngilang gitu aja tadi pas pelajarannya Pak Edi.”

            “Aku sama Susi udah nyari kemana-mana sih, bu. Tapi gak ketemu.”

            “Umm,” Bu Putri manggut sambil memegang dagu dengan telunjuknya. “Berati sekarang Yoshi gak ikut pelajaran?”

             “Ya makanya ini, kita kan lagi disuruh sama Bu Ani buat nyari Yoshi.”

            “Kita udah dari pos depan, tanya Mas Riwa, tapi katanya gak ada siswa yang keluar.”

            Begitu aku dan Echa berkata demikian, Bu Putri lalu berkata, “Ya udah gini aja. Kamu berdua sekarang balik ke kelas, bilang sama Bu Ani kalo Bu Putri yang gantiin kalian nyari si Yoshi. Oke? Nanti sayang lho, kalo kalian sampai ketinggalan mata pelajaran.”

            Bagiku itu masuk akal, dan memang aku agak malas disuruh nyari si pemurung itu. Tapi sebelum aku sempat berkata apa-apa, Echa telah lebih dulu berkata, “Tapi kita pengin nyari Yoshi, bu.”

            Wajah cemas Echa kembali mengganggu pikiranku, hingga aku kemudian berkata, “Iya bu Putri. Kita ini kuatir─takut ada apa-apa sama Yoshi.” Kataku, lalu coba melirik ekspresi apa yang akan Echa tunjukkan, kalau aku juga menunjukkan ekspresi kecemasan yang sama. Dan ternyata, kecemasan itu tak juga sirna dari wajah Echa.

            “Iya, saya tau─tapi kalian kan gak boleh ketinggalan pelajaran, sayang.” kata Bu Putri. Tersenyum prihatin pada kami. Dan, Uhh…, terus terang sangat menyentuh. Aku selalu suka pada bagian Bu Putri nyebut kita dengan panggilan “sayang.”

Wow…

Aku tetap bisa menangkap ekspresi kecemasan di wajahnya yang putih, mulus, bersih, dibalut dengan senyumnya yang─entah kenapa, aku jadi merasa bisa percaya pada ucapannya. Mungkin Bu Putri cemas dalam artian yang berbeda dengan yang kami rasakan. “Lagian saya tau, Bu Ani gak mungkin ngijinin kalian keluar pelajaran dia, cuma buat muter-muter nyari si Yoshi. Iya, kan?”

            Ups…

            Intuisi yang benar-benar mengerikan. Aku dan Echa sama sekali tidak mengira kalau Bu Putri akan langsung menebak ke arah yang sesungguhnya. “He…”

            Aku dan Echa sama sunggingkan senyum polos. Tidak bisa tidak terkejut dengan ucapan Bu Putri yang benar-benar… telak. “Tuh kan…” telunjuk Bu Putri ganti mengarah pada kami secara bergantian.

            “Kok bisa tau sih, bu?” tanyaku, takjub, dan blablabla. Dan rasa kagum itu, kurasakan mulai tumbuh di dalam diriku. Saat itu.

            “Ya tau dong…” sahut Bu Putri. Tawa kecilnya merobek kelembutan senyumnya dan memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih, serta bagian sisi kanan yang nampak gingsul. “Makanya, udah kalian balik aja ke kelas. Nanti biar Bu Putri yang bantu kalian nyari Yoshi. Oke?” ucapan Bu Putri terdengar manis.

            “Emang gak pa-pa?” kataku. “Bukannya Bu Putri juga lagi ngajar di kelas lain, yah?”

            “Udah. Itu gak usah kalian pikirin. Pokoknya, yang penting kalian balik ke kelas.” Bu Putri mendorong punggungku dan Echa, seraut wajah cerianya masih setia menemani kami. Aku sedikit menoleh ke arahnya, dan entah kenapa, begitu melihatnya─aku merasa seperti aku bisa percaya padanya. Karena itu aku pun tersenyum seraya berkata, “Makasih Bu Putri…”

            “Eh tapi ini gimana dengan Yoshi, Sus?!”

            “Udah tenang aja. Kan Bu Putri udah bilang, kita balik ke kelas aja. Entar Bu Putri yang bantu nyari.”

            “Ya tapi kan Sus…”

            Echa tak jadi meneruskan ucapannya. Yeah, tentu dia sibuk khawatir dengan soulmate-nya yang entah ada dimana sekarang. Bisa kulihat dia memendam sesuatu yang ia tidak ingin aku sampai tahu. Apapun itu. “Sebenarnya dari tadi aku tuh heran Cha. Kok kamu keliatannya kawatir banget sih sama Yoshi?” ungkapku. Kurasa sudah saatnya aku tahu, apapun yang Echa sembunyikan dariku itu.

            Aku memaksanya berhenti, tepat saat kami sampai di depan ruang UKS. Tapi kesalnya, Echa hanya berkata, “Kenapa sih!? Emang aku musti bersikap gimana?! Yoshi, temen aku sendiri, temen kita, ngilang gini. Ya jelas aku kawatir dong, Sus! Emang kamu gak?!”

            “Iya. Aku ngerti. Tapi kawatirnya kamu ini udah gak wajar tau gak?”

            “Gak wajar gimana─biasa aja kali, Sus! Kalo kamu yang ada di posisi Yoshi, aku juga pasti kawatir kok.”

            Hahhh…

            Aku tahu si Echa bohong. Dia hanya berkilah. Dan di saat seperti itu, malah muncul orang yang benar-benar tidak diduga. “Hey, lagi pada ngapain, see?!” dan langsung teriak.

            Kutepuk jidatku melihat Nova yang muncul dari belakang kami dengan senyum tanpa dosa, melambai ke arah kami dari kejauhan. “Ya ampunn. Itu anak ngapain lagi, ikut-ikutan keluar?” keluhku. Kurasa sekarang Bu Ani sudah pasti mulai mempertanyakan kepergian kami. Secara, kami tadi keluar dengan alasan pergi ke toilet soalnya.

            “Kamu bedua ditanyain sama Bu Ani tuhh,” ucap Va begitu ia sampai di dekat kami dengan berlari-lari kecil.

            “Masa? Emang bilang apaan si Mak Lampir, Va?” aku langsung panik.. Rasanya sekarang ada hal lain yang lebih harus aku cemaskan tinimbang Yoshi.

            “Gila! Tadi tu Bu Ani nyusul kamu bedua ke toilet tau!” ucap Nova, rasanya seperti ada petir yang menggelegar di atas kepalaku tiba-tiba. Tiga kali bertubi.

            CTAR! CTAR! CTAAAAARRRRR!!!

            “Yang bener, Va!?” aku panik. Dan jangan tanya kenapa aku mendadak panik. “Terus, terus… bilang apa lagi si Mak Lampir? Dia nyuruh kamu nyari kita, gitu?!”

            Nova angkat bahunya, menggeleng. “Gak tuh.” Katanya, dan sungguh sangat melegakan, meski menyisakan setitik rasa keheranan. “Lagian, kalian juga sih… ke toilet aja lama banget! Ya udah, terang aja Bu Ani curiga.”

            “Lha, terus… kamu kok bisa ada di luar. Gimana ceritanya?!” Echa mendahuluiku bertanya.

            Dengan senyum melebar, Va kemudian berkata, “Tadi waktu lagi nulis kebetulan isi bolpoinku habis. Jadi aku minta ijin keluar buat ke koperasi.”

            “Rasain! Siapa suruh, seenaknya aja main gambar tangan orang sembarangan.” Aku terkekeh, yang kesalnya justru malah membuat Va makin tertawa.

            Sucks!

            “Ya udah ini kita mesti kemana lagi nyari Yoshi?” ujar Echa, seketika membungkam tawa Nova yang sangat menyebalkan.

            “Lho, emang dari tadi kalian bedua lagi nyari Yoshi?” tanya Va, mendadak berwajah lugu. “Emang Yoshi kemana?!”

            Hahh…

            Memang capek kalau harus menjelaskan semuanya ke Nova. Belum tentu juga dia peduli. “Ya udah, mending kita turutin omongan Bu Putri aja. Balik ke kelas.” Ajakku.

            “Eh, bentar dulu, Sus.” Echa pegang lenganku, menghentikan langkahku. “Kenapa lagi sih, Cha?” tubuhku mendadak seperti lemas. Oke… aku capek nurutin kemauan si Echa yang udah overworrying, cuma gara-gara teman satu bangkunya bolos dua mata pelajaran. Hal yang biasanya umum dilakukan oleh remaja seumuran kami.

            Huff…

            “Aku pengin ngecek satu tempat dulu. Boleh yah?” katanya, nampak memelas. “Entar habis itu aku janji, kita langsung balik ke kelas. Boleh ya, Sus? Plisss…”

            Aku melirik ke arah Nova yang langsung tersenyum, berkata, “Ya udah. Tapi aku gak ikutan loh, beb. Soalnya tadi aku bilangnya cuman mau beli bolpoin. Tapi nyanté aja. Aku gak bakal bilang kok, kalo aku ketemu sama kamu bedua, disini, sedang nyari Yoshi.” Va tersenyum, acungkan kedua jempolnya, berbalik arah, kembali ke kelas. Aku dan Echa mencoba mencari Yoshi sekali lagi. “Emangnya kemana sih, Cha?” tanyaku.

            “Udah pokoknya buruan, Sus.” Sahut Echa, menarik tanganku, mempercepat langkah kami. Kami berjalan dengan langkah nyaris berlari menuju ke bagian barat sekolah. Arah yang baru saja dituju Nova. Dan di sekitar situ, setahuku cuma ada tempat parkir, Koperasi, dan sederetan kantin termasuk kantin Bu Kamal. Dan kesemuanya sama sekali bukanlah tempat yang menurutku bisa didatangi Yoshi di jam pelajaran.

            Kami melewati koridor dan berhasil sampai di depan koperasi. Kupikir mungkin Echa akan membawaku kemana, tapi ternyata begitu sampai di depan kantin Bu Kamil, Echa langsung melesat masuk, meninggalkanku begitu saja. “Cha!” aku berseru memanggil, namun Echa tak mengindahkanku, tak ada balasan, jadi aku pun menyusul masuk. “Echa, kamu kemana sih?”

            Aku tak berhasil menemukan Echa. Tapi samar-samar, aku mendengar suara bisikan di belakang, aku nekat masuk lebih dalam. Dan apa yang kusaksikan benar-benar sulit bagiku untuk mempercayainya.

            Gila!

            Di hadapanku yang sandarkan tangan pada gawang pintu, Yoshi duduk dengan mata memerah. Rambutnya yang biasanya selalu ditali ekor kuda, kulihat nampak acak-acakan, rona memucat merias wajahnya. Kupikir dia akan sangat terkejut dengan kehadiranku, namun ternyata Yoshi justru sunggingkan senyum, menyeringai padaku. Akulah yang dibuatnya terkejut, karena selain sikapnya yang aneh, aku juga melihat tangan kanan Yoshi mengapit sebatang rokok yang masih menyala.

            Mamma mia!

            Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk kuucapkan. “Gila kamu Yosh!” aku memekik, berusaha menahan diri agar tidak teriak. Sialnya, Yoshi malah sunggingkan senyum simpul dan berkata, “Kenapa? Kayak belum pernah liat orang ngerokok aja.”

            Anjrit!

            Seruanku tertahan. Tenggorokanku serasa dicekik, aku sama sekali tak mampu berkata apapun. Rasanya aku benar-benar pengin banget nonjok muka si Yoshi. Tapi entah kenapa, ada rasa lain yang mengekang amarahku. Rasa yang mungkin mirip dengan iba…

            “Eh, Sus. Sini!” Echa berdesis, menarikku masuk, sementara aku terus saja memaku pandanganku pada Yoshi yang masih juga menghisap rokoknya dengan khidmat.

            “Udah deh, Yosh!” Echa memaki perlahan. Berusaha agar suaranya tidak terlalu keras hingga ada orang lain di luar yang mungkin mendengarnya. “Kalo ketahuan guru bahaya tau gak, Yosh!? Kamu bisa di DO!”

            “Ehm. Ehm!.” Telingaku menangkap satu suara yang sudah tak asing, membuat udara yang banyak dipenuhi asap rokok mendadak serasa menekan.

            Aku tercekat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, menatap lekat Yoshi yang langsung segera membuang rokoknya jauh-jauh dan berdiri seketika. Dengan suara bergetar ketakutan, Echa yang juga sama terkejutnya menyebut nama orang yang tidak disangka itu. “Bu… Bu Putri!”

            Tidak ada yang berani bersuara diantara kami. Aku, Echa dan Yoshi sama terdiam─menunggu reaksi Bu Putri yang masih saja melekatkan pandangannya pada Yoshi yang menundukkan wajahnya.

            Tiba-tiba... Bu Putri menimpuk aku dan Echa dengan bukunya, menghela nafas panjang, lalu berkata, “Kamu itu pada ngapain di sini? Susi, Echa?!”

            Eh!?

            Aku terkejut, takut, tapi merasa aneh juga. Aku seperti tidak merasakan adanya nada marah, terkejut, atau… something like that. Bu Putri… ketika aku lalu memberanikan diri menatap wajahnya, aku sadar kalau Bu Putri memang tidak marah.

            Absurd…

            “Saya kan udah bilang, kalian cepet masuk kelas… kok malah nyangkut di sini, sih!?” kata Bu Putri. Masih dengan wajah biasa, dengan senyum menghias paras eloknya. Aku tidak tahu musti berkata apa, Echa pun sama bingungnya, sementara Yoshi hanya bisa menundukkan wajahnya, tak berani memandang Bu Putri.

            Bu Kamil muncul tak lama kemudian, dari raut mukanya yang terlihat cemas, aku bertaruh dia tahu perbuatan Yoshi, dan tentu ia takut bakalan ikut kena imbas dengan keberadaan kami yang illegal di tempat kerjanya, terlebih dengan sikap Yoshi yang jelas-jelas sebuah pelanggaran berat terhadap peraturan sekolah. Namun kulihat Bu Putri layangnkan senyum pada Bu kamil, membuat perempuan baya itu terlihat canggung, balas tersenyum. “Maaf lho bu, ini anak-anak ngerepotin.” Kata Bu Putri. Jujur membuatku tercengang. Begitu pula Echa dan Yoshi. Ia−Yoshi akhirnya beranikan diri angkat kepalanya, melirik ke arah Bu Putri dan Bu Kamil secara bergantian. Bu Kamil juga tak kalah terkejutnya, menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan di mulutnya.

            “Ya udah. Sekarang kalian buruan masuk ke kelas, sana,” ucap Bu Putri. Suaranya terdengar tegas hingga kami pun langsung menurut. “Iya bu. Makasih.” Aku dan Echa kompak dan langsung beranjak pergi. Namun ketika kami berjalan melewatinya dengan canggung dan hampir keluar ruangan kantin, Bu Putri sekali lagi berkata, “Oh iya,” Bu Putri berbalik menghadap kami. “Jangan lupa, nanti bilang sama Bu Ani kalo kalian habis disuruh bantuin saya. Nanti sisanya biar saya yang urus. Oke?”

            Kami bertiga menengok secara bersamaan dan kompak bengong, sebelum akhirnya senyum lebar menghias wajahku dan Echa yang dengan senada berkata, “Iya, bu. Makasih!”

            Aku, Echa dan Yoshi pun kemudian kembali ke kelas. Dan… memang seperti yang sudah kami duga. Suara Bu Ani menggelegar disertai hujan lokal yang membuat wajah kami bertiga basah. “Gusti. Kamu ini kan ketua kelas. Seharusnya kamu ini jadi contoh yang baik buat semua teman-teman kamu. Ini malah kamu bolos pelajaran ibu. Kamu ini gimana sih jadi ketua kelas!?”. Dan tiap kali, entah kenapa, aku selalu saja menjadi bagian terburuk dari kemarahan guru yang satu ini. Posisiku sebagai ketua kelas jelas kurang menguntungkan kalau sudah menyangkut urusan dengan Bu Ani.

            Cerita lama…

            “Anu bu, tadi…”

            “Kamu gak bisa bohongin ibu, Gusti! Kamu pikir ibu ini bisa seenaknya saja kamu tipu?!”

            Ya ampuunnn…

            Bu Ani benar-benar tidak memberiku kesempatan bicara─maksudku kami. Aku, Echa dan Yoshi terpaksa harus ikhlas menerima segala bentuk omelan Bu Ani yang terus saja nerocos dengan kata-kata pedasnya, membuat telingaku serasa nyaris tuli. Kurasa Echa dan Yoshi pun sama. Belum lagi hujan lokal yang dicurahkannya seiring dengan nada suaranya yang sumbang, yang jelas membuat siapa saja dalam radius terdekatnya basah kuyup.

            Arrrgggg…

            Aku menggeram. “Bukannya kita harusnya bilang, kalo kita habis disuruh bantuin Bu Putri, yah?”  aku berbisik, Echa hanya tersenyum kecut. Benar-benar kehabisan mood untuk bicara, sekalipun itu untuk kepentingan membela.

            “Kamu aja yang ngomong deh, Sus.” Echa menyahut tak kalah lirih, disusul Yoshi juga ikut menimpali, “Dalam situasi kayak gini, rasanya kita mendingan diem aja, dehh…”

            Wew…

            Aku sama sekali tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Yoshi. Secara, kalau bukan karena penyakit syarapnya yang kumat, aku sudah pasti tidak bakalan kena omelan Bu Ani dengan muka basah begini. “Sadar gak sih, kalo ini semua tuh gara-gara kamu, Yosh?” keluhku, tak habis pikir.

            “Gusti!” Bu Ani sekali lagi berteriak, aku terhentak menatap guruku yang─mati aku. Bu Ani memasang wajah garang, yang bahkan lebih menyeramkan dari yang pernah kulihat. Tapi aku heran, kenapa tiap kali dia harus berteriak di dekat telingaku, sih?!

            “Ibu sedang bicara sama kalian. Jadi jangan bisik-bisik!” tandasnya.

            “Iya, buuu…!” sahutku dengan suara sengaja aku keraskan. Setidaknya lebih keras dari Echa. Sementara Yoshi cuma mengangguk perlahan. Kudengar satu suara mengikik yang saat coba kulirik, ternyata memang Va dan Liana, sesuai dugaanku.

            Sialan!

            Kami bertiga akhirnya terpaksa harus berdiri selama sisa jam pelajaran, sebagai hukuman atas ketidakhadiran kami. “Habis ini ada pelajarannya siapa?!” tanya Bu Ani, beberapa teman menjawab serentak. “BK, bu!”

            Bu Ani hantamkan lirikannya ke arah aku, Echa dan Yoshi yang masih berdiri di depan kelas, dengan seringai terkembang di wajahnya, ia berkata. “Bagus. Biar ini jadi pelajaran sekalian buat kalian,” ia berjalan mondar-mandir di hadapan kami bertiga, langkahnya tegap, matanya tak sedetik pun luput dari kami. Kalau dia tergolong spesies vampire, maka kini aku pasti sudah melihat sepasang taring tajam mencuat keluar dari sela bibirnya, siap menghisap habis darah kami bertiga sampai kering tak bersisa.

             Bel berbunyi, dan penderitaan kami pun akhirnya akan segera berakhir, bersamaan dengan berakhirnya pula jam pelajaran Bahasa Arab Bu Ani. Aku secara spontan menghembuskan nafas panjang. “Huff…”

            Dan sayangnya, aku terlalu cepat bernafas lega, karena segera setelah aku hembuskan nafas, Bu Ani yang sepertinya menangkap aura kebebasanku berkata, “Jangan senang dulu, kamu Gusti. Kamu masih harus berdiri sampai ibu nyuruh kamu bertiga duduk. Ngerti kamu?”

            Whats!?

            “Tapi bu, jam pelajarannya kan udah habis…” keluhku. Mencoba bersikap memelas pada musuh, kurasa kadang juga perlu. Tapi taktik semacam itu, sama sekali tak berpengaruh pada guru yang memang pantas menyandang predikat sebagai The Killer Teacher itu.

            “Gak bisa!” Bu Ani menyahut tegas. Sekarang aku benar-benar benci pada guru yang satu ini. “Sebentar lagi Bu Putri masuk, dan saya pengin bicara sama Bu Putri mengenai hukuman buat tindakan kalian yang membolos pelajaran saya ini!” tandasnya.

            Haaahhh…!?

            Aku dan Echa sontak lunglai mendengar ucapan Bu Ani, sementara seisi kelas kembali riuh akan tawa yang mengejek kami bertiga. Cuma Yoshi yang kulihat tetap tenang. Wajahnya seolah memang tak punya ekspresi lain selain yang semenjak tadi diperlihatkannya. Ekspresi yang mirip dengan sedih. Dan tak lama kemudian, Bu Putri akhirnya datang.

            “Pagi semuanya…!” suara Bu Putri nyaring mendendang mengiringi kedatangannya yang selalu saja bikin heboh semua murid cowok. Diiringi suara high heel nya yang memainkan nada-nada berwibawa serta langkahnya yang anggun, guru yang menyandang predikat termuda dan tercantik di SMANSAKU itu, masuk dan langsung menampilkan rona terkejut begitu melihat sosok Bu Ani yang masih duduk di kursinya. “Ups,” Bu Putri seketika memantek langkahnya. Senyumnya yang sejak tadi terkembang sekejap hilang, berganti dengan warna keheranan, serta tanda tanya yang terpantul di kedua bening matanya yang hitam berkilau layaknya sepasang mutiara. “Belum selesei ya bu?!” kata Bu Putri, hampir saja beliau menarik mundur langkahnya sebelum akhirnya Bu Ani berkata, “Oh, bukan, bukan. Bukan begitu. Saya udah selese, kok…”

Mata Bu Putri sekilas memandang ke arah kami bertiga. Tersenyum geli sebelum akhirnya kembali fokus pada Bu Ani yang dalam waktu singkat telah berdiri di hadapannya. “Ini bu,” telunjuk Bu Ani mengarah pada kami bertiga. “Igusti, Eka, sama Yoshi. Bertiga, mereka kompak sekongkol mbolos pelajaran saya!”

“Hah, masa sih?!” Bu Putri sedikit membeliak, melirik kami untuk sesaat.

“Iya!” tandas Bu Ani. “Pokoknya saya minta ini anak bertiga dihukum. Soalnya mereka sudah…”

“Bentar, bentar…” Bu Putri menyela. Suaranya yang lembut berhasil membungkam suara Bu Ani. “Emangnya mereka gak bilang sama ibu, mereka bertiga habis dari mana?!”

“Saya mana peduli mereka habis dari mana! Pokoknya mereka sudah menyalahi aturan, dengan tidak hadir dalam kegiatan belajar mengajar di kelas! Dan yang paling membuat saya tersinggung, ialah karena si Eka sama Igusti, berani membohongi saya!”

“Bukannya begitu bu…”

Berbeda dari Bu Ani yang bersuara keras dan nyaris teriak, Bu Putri bertutur dengan halus dan pelan, yang ternyata justru mampu menutup mulut Bu Ani, membungkamnya. “Sebenarnya gini bu…” tutur Bu Putri pelan, dan tetap cool. “Tadi saya itu sedang ada kesulitan. Dan kebetulan waktu itu saya liat si Yoshi, jadi lantas saya minta tolong Yoshi buat bantu saya.”

“Kesulitan?!” Bu Ani heran, terbungkam. Yoshi kulihat terkejut, kami sama mendongakan kepala. “Bu Putri bukannya bermaksud membela mereka, kan?” Bu Ani kembali membuka gugatannya.

“Oh, gak bu. Saya sama sekali gak bermaksud gitu, kok. Saya tadi emang bener-bener lagi ada masalah, dan saya butuh bantuan. Untung ada mereka bertiga.”

Bu Putri mengajak Bu Ani keluar. Mereka kemudian bicara dengan suara pelan hingga kami sama sekali tidak bisa menangkap isi pembicaraan mereka. Tapi aku bisa melihat Bu Ani yang memperlihatkan ekspresi kagetnya untuk sesaat, lalu termanggut-manggut sebelum akhirnya kembali masuk dan menatap aku, Echa dan Yoshi satu persatu. Aku sama sekali tidak berani bertanya atau pun bersuara. Hanya sedikit melirik pada ekspresi heran yang dilukiskan Bu Ani di wajahnya, yang tak lama kemudian berlalu dari hadapan kami. Mukanya yang cemberut, serta langkah yang sengaja dibuat tegap, benar-benar sukses membuat kami terpingkal.

 “Yap, semuanya dengerin…” ucap Bu Putri dari balik mejanya, setelah aku, Echa dan Yoshi akhirnya bisa duduk dan bernafas lega. “Sekarang kita mulai pelajarannya.”

Huff…

Jujur aku sempat deg-degan ketika Bu Putri bilang akan segera memulai pelajaran. Kupikir, mungkin setidaknya ia akan memberi kami beberapa kalimat nasihat atau apalah─sehubungan dengan apa yang baru saja terjadi. But, wew…

Its magic, but so weird.

Bu Putri sama sekali tidak menyinggung perihal apa yang barusan terjadi. Ia mengajar seperti biasa, seakan memang tidak terjadi apa-apa. Selama jam pelajarannya, ia hanya membahas tema Tipe Kecerdasan, dengan penjelasan awal tentang Mengenal Delapan Tipe Kecerdasan. Tak ada perubahan apapun pada intonasi suaranya yang seperti biasa, terdengar begitu lembut dan jernih saat ia menerangkan sesuatu. “Menurut Howard Gardner, seorang professor ahli riset asal Amerika, kecerdasan manusia itu dibagi menjadi delapan macam. Satu, Kecerdasan Linguistik, yakni kemampuan manusia untuk menggunakan kata-kata secara efektif,  baik itu dalam bentuk lisan maupun tulisan. Lalu yang kedua, Kecerdasan Logis Matematis atau yang disebut juga Number Smart…

Fuuh…

Bu Putri seolah memang pandai memainkan suaranya, hingga tiap kata yang diucapkannya benar-benar membentuk satu tangga nada tertentu yang menurutku indah. Benar-benar seperti melodi yang mengalun, mengikuti barisan suatu syair, mengisyaratkan kami untuk terus mendengarkannya sampai sang kondektur menurunkan tongkatnya.

Semua berjalan seperti biasa, dengan sikap Bu Putri yang sama sekali tidak berbeda. Padahal, ia baru saja memergoki tiga orang muridnya membolos pelajaran, ditambah satu diantaranya merokok, jelas itu menimbulkan tanda tanya besar di kepalaku. Echa dan Yoshi kulihat sama herannya, bingung. Kami bertiga diam mengikuti pelajaran dengan tenang. Sangat tenang. Dan bahkan rasanyanya terlalu tenang─jauh dari kami yang biasanya.

Sesekali Bu Putri mengajukan pertanyaan padaku, dan itu juga biasa dia lakukan. Begitu pula dengan Echa dan Yoshi maupun teman-teman lainnya. Bu Putri benar-benar bersikap seolah kejadian di kantin dan membolosnya kami di pelajaran Bu Ani sama sekali tidak ada. Never. Tapi justru aku, Echa dan Yoshi lah yang tidak bisa bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tiap kali Bu Putri mengajukan sesuatu padaku, aku selalu saja menanggapinya dengan canggung. Dan itu pula yang terjadi dengan Echa dan Yoshi. Efeknya jangan ditanya lagi. Karena sudah jadi lagu wajib di kelas kami untuk bersorak sorai dan bergaduh ria, tiap kali ada yang sedikit saja tidak biasa diantara kami semua. Dan sialnya, aku yang biasanya paling semangat gaduh, sekarang justru harus melipat muka sambil tersenyum simpul dan berkata, “Ya biarin aja napa sih. Sirik banget!” sahutku yang sudah barang tentu malah menambah gaduh bullyan mereka terhadapku.

Sialan!

Pelajaran berakhir dengan damai, sama sekali tidak terjadi apa-apa yang tidak biasa. Aku jelas lega dan bersyukur sekali kalau Bu Putri memang tidak berniat memperpanjang masalah. Tapi baru saja aku merasa lega, kulihat Yoshi malah berlari menyusul Bu Putri keluar kelas. Aku yang merasa heran pun akhirnya keluar ikut menyusulnya, berikut Echa yang ternyata telah ada di belakangku tanpa aku sadari.

“Kenapa, Yosh?” tanya Bu Putri, ia masih belum terlalu jauh dari kelas. Senyumnya tetap mekar seperti biasanya. “Lho, Susi sama Echa ikut nyusul juga. Ada apaan, nih? Kalo masalah yang tadi, cukup bilang makasih.” Bu Putri masih tetap bersikap sewajarnya, seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku terus terang bingung dan canggung. Sama sekali tidak ada yang terlintas di benakku tentang apa yang akan kukatakan pada Bu Putri. Maksudku, apa yang sebaiknya aku katakana, mengingat aku lari begitu saja menyusul Yoshi tanpa tahu apa yang ingin aku sampaikan. Begitu pula dengan Echa. Sementara Yoshi, ia yang lebih dulu lari menemui Bu Putri juga menjadi yang paling diam diantara kami. Kepalanya tertunduk, seperti menahan sesuatu yang ingin sekali diluapkan, namun tak sepatahpun ia ucapkan.

“Ibu gak marah sama kamu kok,” Bu Putri memecah keheningan. Kata-katanya benar-benar membuatku heran, bertanya. Namun sebelum aku sempat buka mulut, Bu Putri sudah lebih dulu kembali berkata, “Merokok itu bukan sesuatu yang bisa dibilang baik. Dan… jujur ibu gak suka sama orang yang merokok. Apalagi cewek!”

Mendengar ucapan Bu Putri, kami sama mendongak dan menatap wajahnya yang berhiaskan senyum, yang entah bagaimana sistematisnya, terlihat begitu indah di mataku. “Tapi gak tau kenapa yah─ibu gak bisa marah, nih,” Lanjut Bu Putri lagi. Dia hembuskan satu nafas berat. Entah kenapa. “Yah, sepertinya untuk sementara saya gak bakalan bilang apa-apa sih. Saya juga gak akan bertanya apa-apa sama kamu. Tapi…” Bu Putri sejenak berhenti berkata, menatap Yoshi lekat-lekat, baru melanjutkan. Nada suaranya menurun, intonasinya berubah, prihatin. “Kapanpun kamu pengin cerita, saat itu ibu akan ada buat dengerin semuanya.”

Tidak ada yang bersuara diantara kami bertiga, tidak ada yang bisa aku ungkapkan selain betapa aku takjub dengan ucapan Bu Putri. Yoshi tetap diam. Namun bisa kulihat tatapan matanya berubah. Seperti ada sesuatu yang terbang menghilang dari dirinya.

“Saya akan menghukum kamu, hanya kalo emang saya merasa, bahwa hukuman itu adalah sesuatu yang kamu perlukan untuk maju. Dan untuk sekarang, saya rasa kamu emang belum waktunya dapet hukuman. Oke, Yosh!? Udah dulu yah. Dah semuanya…”

Bu Putri berbalik, melenggang pergi membawa serta senyumnya. Meninggalkan kami yang cuma bisa diam tanpa bisa berkata apa-apa. Menyisakan kami, bersama satu rasa yang terlukis indah di hati kami bertiga. Terimakasih…

 

<<Project Hida>>

Igusti Sensei: 02. Bahasa Kanvas

 


“Tuh Yoshi, Sus.” Kata Va. Pandangannya terlempar ke arah pintu, Yoshi muncul dan langsung duduk di kursinya tanpa basa-basi. Benar-benar memasang wajah tanpa dosa dengan sempurnanya. Semua orang bahkan tak ada yang menyadari ketidakhadiaran Yoshi di lapangan tadi. Hampir. Karena aku jelas menjadi saksi pasti ketiadaannya selama upacara.

            Kulempar satu remasan kertas dan mendarat tepat di atas ekor kudanya. Yoshi berbalik ke arahku dengan secarik wajah heran bercampur tanya, sementara matanya menyipit meminta jawab atas ulahku. “Dari mana aja sih, see?! Perasaan penting banget nyampe gak ikut upacara segala!” ucapku satir. Tapi memang dasar itu anak sedang jago banget membuat orang emosi. Yoshi hanya berkata, “Gak dari mana-mana.” Ucapnya datar, dan langsung kembali memalingkan pandangannya.

Aarrggg…

“Ini anak hari ini nyebelin banget tau gak!?” geramku. Kukepalkan tinjuku dan kulampiaskan kekesalanku pada mejaku, hantamkan tinjuku perlahan, namun penuh perasaan. Va hanya tersenyum geli melihat sikapku. “Udah lah see. Ngapain sih gitu aja dipikirin,” katanya. Ia berusaha menjauhkan perhatianku pada Yoshi dengan tingkahnya yang mulai usil. Nova mulai menarik lengan bajuku dan hendak menuliskan entah apa dengan bolpoinnya. Memang lagi jadi tren yang nyaris seperti sindrom diantara murid cewek. Mentato lengan dibalik baju dengan tulisan dan gambar atau semacamnya dengan bolpoin.

 “Hoe, minggir, minggir, minggir…” Liana berlari masuk di saat yang tepat. “Pak Edi dateeng!” teriaknya. Ia menyelamatkanku dari tindak kejahatan Nova. Ia dan beberapa teman lain nampak sangat terburu-buru. “Ada guru, yah?” tanyaku dengan alis terangkat, sementara Va langsung saja beranjak kilat menuju tempat duduknya dengan muka tengilnya. Memang tidak ada alasan untuk kami buru-buru selain seorang guru. Dan memang hal yang wajar terjadi, kalau ada guru yang datang lantas kami berlomba kembali ke tempat duduk kami masing-masing.

Pak Edi, guru bermuka tirus itu masuk dengan langkah tegapnya yang biarpun santai, tapi terasa sekali sisi berwibawanya. Kami semua terdiam, tidak ada yang bersuara dan memang seperti itulah seharusnya. Seperti yang Pak Edi atau setiap guru harapkan.

“Selamat pagi semuanya!” Seru Pak Edi. Seperti biasa, dengan gaya santai, namun suara terdengar lantang dan membahana ke seisi ruang. Beliau merupakan satu dari sedikit guru yang punya kharisma seperti itu bagi kami.

“Pagi paaaak…!” sahut kami serentak. Aku menyempatkan diriku memperhatikan Yoshi. Sepertinya ia memang sedang agak kurang bersemangat hari ini. Pak Edi meletakkan tiga lapis buku bawaannya dan mulai memimpin doa. Tradisi sakral kami di sekolah, setiap kali pelajaran pertama akan dimulai.

“Itu Pak Edi kok bawa-bawa buku segala. Bukannya ini mapel gak pernah ada teorinya, yah?” bisikku di tengah heningnya doa, yang hanya dapat sedikit perhatian dari Liana. “Ya buku gambar kali, see.” Sahut Liana singkat, diiringi senyum simpul di wajahnya.

“Oke semuanya,” Pak Edi menepuk tangannya, kami selesai berdoa. “Sekarang keluarkan kertas, dan pensil kalian. Hari ini kita akan menggambar sesuatu yang pastinya akan sangat kalian sukai.” Pak Edi terlihat bersemangat, mengakhiri ucapannya dengan selarik senyum, lalu duduk di kursinya sementara aku dan teman-teman yang lain mulai mempersiapkan peralatan kami.

“Mau nggambar apaan lagi sih yah, Sus?!” ujar Liana. Ia memang tidak begitu jago seni rupa dan sering mengeluh tentang pelajaran yang jadi kelemahannya itu. Gambar terakhir yang ia buat saja, benar-benar acak-acakan, separah benang kusut Bu Bakri, tukang jahit tetanggaku. Ia sering membiarkan begitu saja benang yang sisa dan sudah tidak terpakai hingga kusut satu sama lain. Dan gambar ilustrasi yang Liana buat terakhir kali benar-benar mirip sekali dengan itu. Kusut.

“Kenapa, Yosh?” kudengar suara Echa, cewek yang duduk satu bangku dengan Yoshi. Dahinya sedikit berkerut, menampakkan rona keheranan di tengah suaranya yang sengaja ia pelankan. “Duhh, aku lupa gak bawa buku gambarku, Cha.” Yoshi berbisik. Kali ini aku benar-benar melihatnya memasang tampang bingung.

Rasain, lu!

“Wah, ampuh! Tumben yang jago gambar gak bawa buku gambar!?” aku kembali menyindir. Yoshi dan Echa seketika berbalik menatapku, tapi tidak dengan sorot mata yang sama. Echa melirikku namun bibirnya melebar membentuk seulas senyum geli menahan tawa, sementara Yoshi─ia hanya sekilas menatapku dengan sorot mata datar, yang bahkan tidak membuatku tertawa sama sekali. Justru pandangannya benar-benar membuat bibirku terkatup. Aku menghentikan tawaku dan alih-alih bertanya aku berkata, “Apa sih. Itu sebelah kamu gak lucu banget, Cha! Bikin gerah aja.”

Echa dan Liana ketawa cekikikan hampir bersamaan, tapi sepertinya Yoshi sama sekali tidak tertarik dengan leluconku. “Emangnya lucu?” sahutnya singkat, lalu langsung palingkan mukanya dari kami bertiga.

Suck!

Tiga detik kemudian Yoshi dan Echa sama berdiri dan maju ke hadapan Pak Edi. Gampang ditebak. Pasti mereka pergi nyari buku gambar ke koperasi. Dan sementara aku mempersiapkan peralatan gambarku, ternyata Liana sudah mulai kesambet setan heboh. “Eh, Sus. Gila kamu udah liat foto Bu Putri yang baru belom?”

Ya ampun…

“Kepo banget sih, ndol. Ngefans sama orang nyampe ngapdet statusnya tiap hari!” desisku. Tetap berusaha agar obrolan kami tidak sampai ke telinga Pak Edi. “Jaim dikit dong…!”

“Alah, sekarang tuh udah gak jamannya lagi kita jaim-jaiman, see.” Sahut Liana. Bibirnya mencibir dan tangannya terus saja memamerkan foto Bu Putri yang berpose dengan blus warna coklatnya, yang─jujur memang serasi dan elegan dengan jilbab yang dikenakannya.

Haahhh…

“Biasa aja kali…” ucapku seraya mendesah. Berusaha menutupi ketakjubanku dengan muka datar yang dengan susah payah aku ciptakan.

Sementara itu, Pak Edi akhirnya berdiri dari duduknya. Siap memberi kami instruksi. “Sambil nunggu teman kalian, biar bapak jelasin gambar apa yang bapak ingin kalian buat kali ini.”

            Semua mulai diam, tidak ada satu suara pun selain suara Pak Edi sendiri. Tapi kemudian beberapa anak cowok yang otaknya memang sedangkal kolam ikan, terdengar masih saja menggumamkan obrolan yang entah apa. Obrolan mereka terdengar seperti dengungan tawon yang tidak jelas kemana arah terbangnya.

Pak Edi nampak tidak nyaman dengan tingkah Daus dan Ian dan tidak melanjutkan ucapannya. Beliau diam dan hanya melipat tangannya sambil terus memaku pandangannya pada dua cowok trouble maker itu. Dan otomatis, semua mata pun segera tertuju pada mereka yang duduk di bangku deretan paling belakang.

            “Jefrian, Firdaus…” kata Pak Edi. Nada suaranya terdengar tegas hingga seketika mulut Daus dan Ian yang memang seperti kaleng rombengan itu pun, terbungkam.

            “Huuuuuuuu…!” seluruh kelas riuh berseru seketika, Pak Edi mengangkat tangan kanannya, mengatupkan telunjuk dan ibu jarinya, tanda agar semua diharap diam. Dan dalam skejap, kelas kembali hening. Daus dan Ian membungkam disertai wajah memerah. Meski begitu, tetap saja mereka masih sempat sembunyikan senyum nakal mereka di belakang. “Bapak kan pernah bilang, kalian bebas bicara selama jam pelajaran bapak. Karena dalam suatu karya seni, yang dibutuhkan memang bukan suatu keterikatan, melainkan kebebasan. Tapi alangkah baiknya, apabila kalian─bicara tidak hanya dengan mulut kalian, melainkan juga dengan pensil kalian. Bicara…”

            Terdengar suara pintu kelas diketuk. Echa dan Yoshi telah kembali, hingga Pak Edi mau tak mau harus menghentikan ucapannya untuk sesaat dan memberi isyarat pada keduanya untuk masuk. “Bicaralah pada kanvas kalian. Bicaralah dengan perasaan kalian. Tuangkan─apa yang kalian rasakan, pada gambar kalian!”

            Suasana begitu hening, senyap. Tak ada yang bersuara untuk beberapa detik lamanya, sampai Pak Edi kembali memecah keheningan dengan suaranya. “Paham?”

            “Ya pak.” Kudengar suara Daus dan Ian menjawab. Aku tidak cukup berani menengok ke arah mereka untuk melihat rona ekspresi mereka. Tapi aku bisa menebak, bagaimana mereka menundukan wajah mereka.

            I guess…

            “Dan ini berlaku tidak hanya buat Afrian dan Firdaus, tapi juga semuanya. Kalian bebas bicara, tapi ada saatnya. Dan itu, bukan saat bapak sedang bicara!” pungkas Pak Edi.

Echa dan Yoshi yang tidak tahu menahu duduk perkaranya nampak bingung.  Si Echa menengok ke arahku dengan alis diangkat sebelah. “Daus sama Ian,” bisikku, tersenyum lebar, cukup terhibur dengan ulah mereka.

            Setelah emosinya sedikit mereda, Pak Edi pun kembali melanjutkan setelah sebelumnya sempat menarik nafas panjang. “Nah, kalau semua sudah siap, bapak akan jelaskan gambar apa yang bapak ingin kalian buat kali ini.”

            Dan wow…  

            Benar-benar kejutan. Siapa mengira Pak Edi bakal menyuruh kami menggambar dua buah gambar dengan kriteria yang benar-benar─menyebalkan. “Pertama, bapak ingin kalian menggambar pohon berkambium, atau yang lebih sering kalian kenal dengan istilah dicotyl,”

Belum juga Pak Edi menyelesaikan ucapannya, seisi kelas sekali lagi riuh. “Gampang itu ma. Gambar pohon kelapa aja, ya gak?” kudengar seseorang menggumam. Bisa kutebak, paling juga si Ardhani─dan memang cuma dia yang punya suara dengan intensitas setinggi penyanyi rock itu. Ide yang bagus dan sangat mendasar, pikirku. Lalu ada juga yang kudengar mencanangkan ide untuk menggambar pohon tebu, tapi segera mendapat sambutan buruk. “Tebu itu kan bukan tanaman dicotyl, see!”.

“Dengar dulu, hoi. Dengar dulu sampai bapak selesai ngomongnya…” ujar Pak Edi yang membuat kericuhan perlahan mereda, lalu sirna. Begitu semua kembali senyap, Pak Edi baru melanjutkan ucapannya. “Bapak ingin kalian menggambar tanaman hijau alias dicotyl, dan bukan termasuk jenis tanaman monocotyl. Dan jelas tebu, kelapa, itu pilihan yang buruk untuk mencari nilai yang bagus dari saya.”

“Yaaaahhhh…” semua kompak keluarkan keluhan. Termasuk aku yang diam-diam juga sepakat dengan ide gambar pohon kelapa tadi. Simple, dan rasanya emang gampang banget.

Sialan!

Pak Edi pasti sudah mengira kalau kebanyakan akan mengambil sampel pohon berbuah yang paling gampang digambar itu. Makanya dia membuat peraturan yang melarang semuanya menggambar pohon kelapa.

Kupret!

“Katanya suruh bikin dua gambar, trus yang kedua gambar apaan nih, pak?”. Di luar dugaan, Liana yang paling mengeluh dengan seni rupa justru bertanya seperti itu.

Wow…

“Untuk gambar berikutnya─” jawab Pak Edi, “Bapak ingin kalian menggambar person. Person disini maksudnya ialah… gambar seseorang, dimana yang bapak minta untuk kalian gambar itu, adalah seseorang yang punya hubungan dengan kalian. Dalam artian, orang yang kalian sayangi.”

“Pacar boleh, pak?” Echa berseru seketika, namun segera mendapat bantahan dari Pak Edi dalam sekejap. “Kecuali pacar!” Pak Edi goyangkan telunjuknya, tersenyum.

“Huuuu…!” seisi kelas berseru serentak, menenggelamkan keluhan Echa yang bisa kulihat saangat kecewa. “Wah, bener tuh pak!” suara Va terdengar menyusul begitu riuh tawa berhenti. “Kalo dibolehin nggambar pacar, entar keenakan si Echa nggambarnya pake acara mesra segala, pak!”

Gemuruh tawa semakin membahana dengan selorohan Nova yang langsung mendapat sambutan senyum nakal Echa, disertai wajah memerahnya. “Cieeeee… mau nggambar mamas Yanuar nih, Chaaa…!?” timpalku yang langsung menambah riuh suasana.

Hahahahaha…

 Tak selang berapa lama kemudian kami digiring Pak Edi keluar kelas, dan ini bagian terasyiknya. Selama menggambar, kami diperbolehkan memilih tempat yang menurut kami… nyaman. “Tapi inget, kalian tetap hanya diperbolehkan berada di sekitar lingkungan kelas. Dan jangan sampai mengganggu kegiatan belajar kelas lain. Mengerti?” tandas Pak Edi. Tapi kupikir, beliau harusnya menambahkan kata ‘usahakan’ dalam ucapannya barusan. Karena aku suka sekali mengganggu.

Badass…

            Dan sesuai dugaan, halaman belakang kelas memang didominasi oleh anak-anak cowok. Jadi dengan muka bête terpampang di wajah kami, aku dan Nova akhirnya kembali ke depan kelas, dimana telah berjejer semua teman-teman satu spesiesku.

            Huff…

            “Gak jadi di belakang, see?” ujar Liana, sengaja meledekku dengan senyum setannya. Beberapa langsung menertawakan aku dan Nova, tapi kami coba bersikap biasa saja.

            “Sialan! Itu si Ian, Daus sama anak-anak cowok udah kaya kompeni aja main monopoli lahan!” geramku. Aku memang cenderung gagal kalau itu menyangkut kesabaran dan mulutku. Yah─setidaknya aku jujur. Orang paling blak-blakan di Cleopatra.

            Agak ke selatan di depan kelas kami, membentang lapangan sepak bola yang luasnya─terus terang belum pernah coba aku ukur sih. Dan aku memang tidak peduli dengan seberapa luasnya. Yang ingin aku coba katakan ialah, bahwa sebenarnya duduk menggambar di depan kelas itu ide yang sungguh… brilliant. Mungkin jauh lebih baik dari duduk di belakang kelas seperti yang aku pikirkan sebelumnya.  Aku sama sekali tidak menyadarinya sampai saat aku duduk di sudut selatan depan kelas bareng Nova, Liana, Sultoniah, Echa, dan tidak ketinggalan pula si Pemurung Yoshi. Yap, mendadak terlintas di benakku untuk manggil Yoshi ‘Si Pemurung’.

            Yey….

            Berenam, kami duduk menjelepok sambil menikmati hijaunya lapangan yang nampak luas dan sejuk, dengan tanpa satu orang pun yang berdiri di atasnya. Aku menghirup nafas panjang dan mulai memikirkan, apa yang sebaiknya aku gambar. Sambil memainkan pensilku, aku terus menyeleksi ide demi ide yang muncul di kepalaku satu persatu. “Hijau…, berbuah… dicotyl, monocotyl,” aku menggumam. Banyak sekali gambaran pohon yang melintas di benakku, dan kesemuanya sebenarnya sesuai dengan kriteria yang Pak Edi berikan. “Selain kelapa…”

            Hmmm…

            Terus terang sulit sekali menuangkan apa yang aku bayangkan menjadi suatu bentuk gambar objektif. Dan kurasa bukan hanya aku yang punya masalah serupa. Karena belum ada satu pun diantara kami yang telah mulai menggoreskan pensil.

            “Belom dapet juga beb?” tanyaku. Sialnya, tidak ada yang cukup peduli dengan kebingunganku. Bête melanda duniaku.

            Hemp…

            “Apaan Sus?”

            Bagus. Setelah sekian detik aku bertanya, akhirnya ada juga yang peduli. “Udah nemu belom… pohon apa yang mau digambar!? Sahutku sinis. Kesal juga rasanya ngomong tapi diacuhin.

            “Yaelaaa, kok gitu sih ngomongnya beb!?”

            “Ya lagian, ada orang segini banyak, tapi akunya ngomong gak ada yang dengerin! Nyesek tauk!”

            “Namanya juga lagi bingung, see!” kali ini Liana yang menyahut sementara Va dan lainnya kompak semburkan tawa.

              “Celi kamu beb! Bantuin kek… bingung nih! Malah pada ketawaaa…”

            “Tuh kan! Mulai lagi, nih. Susi kalau ngomong itu mulutnya asal njeplak aja gak pake diatur!”

            “Emang nih orang. Gak ngerasa cewek kali dia! Ngomong udah kaya cowok aja kamu Sus!”

            “Namanya juga Susi, Cha. Bukan Susi kale, kalau gak geneee…!” timpal Va. Padahal sendirinya juga sering ngomong kasar kalau sedang kesal.

             “Mau gimana lagi. Habisnya emosi ini, see…!” kurasa semua orang berhak membela diri. “Masa dari tadi aku gak bisa-bisa gambaaar…!? Padahal aku rasanya tuh tau, apa yang mau aku gambar. Tapi gak tau kenapa ini tangan gak bisa juga gerakin pensil! Anjrit dah!”

            Semua tertawa dengan apa yang aku katakan. Kurasa itu karena mereka juga mengalami masalah yang sama. Tawaku meledak menyusul mereka, ketika semua kecuali Yoshi kompak perlihatkan kertas gambar mereka yang juga masih sama kosongnya denganku.

            Hahahahaha…

            Tawa kami melantang menembus keheningan. Banyak yang langsung menolehkan pandangan pada kami yang bukannya fokus menggambar, eh, malah asyik ketawa.

            “Eh, Yoshi udah jadi tuh gambarnya,” tiba-tiba Va hantam lirikan ke arah Yoshi. Dan memang dari tadi kulihat, Yoshi paling damai duduknya. Ia duduk di posisi paling ujung utara dari deretan kami berenam. Kebalikan dari tempatku. Dan bahkan dengan suara tawa kami barusan, cuma Yoshi yang tetap tak bergeming. Sorot matanya terus saja menatap lembut kanvasnya, sementara kami berlima melihatnya dengan rasa takjub yang membuat kami− membisu. Untuk beberapa detik lamanya, aku, Va, Liana, Echa dan Sultoniah yang akrab kami panggil mba Beton, benar-benar terpana dibuatnya. Hanya dengan melihat sekilas saja, aku langsung tahu gambar apa yang Yoshi lukiskan di kertas gambarnya. Sebuah pohon mangga. Tak begitu rindang sih, namun cara Yoshi dalam menuangkan imajinasinya terhadap daun dan setiap bagian yang membentuk pohon itu, benar-benar luar biasa. Setiap arsiran benar-benar nampak seperti layaknya bayang-bayang yang terbentuk oleh seberkas cahaya. Dan cara lihat cara Yoshi menggambar bentuk mangga yang menggelantung di beberapa tangkai pohon, benar-benar terkesan natural, seolah mangga itu benar-benar tumbuh dari tangkai yang mengikatnya dan siap untuk kami petik.

            “Yosh,” Echa memecah keheningan. Wajahnya penuh dengan senyum berbinar yang membuat kami serentak bergerak mendekati Yoshi. Dan bisa kutebak, semua punya perasaan sama denganku. “Yakin sumpah cakep banget, Yosh!” aku hampir berteriak. Entah kenapa, aku lupa kalau beberapa saat lalu aku benar-benar kesal dengannya. Begitu aku berseru demikian, seruan Echa segera menyusul lantang. Ia memang orang yang paling dekat dengan Yoshi diantara kami semua. “Beb, keren bangeeet…bikinin dong punyaku…!”

            “Gokil yakin kamu Yosh!” Va tersenyum kagum. Rasanya aku bisa melihat kalau air liurnya siap menetes kapan pun. Sementara Liana─sialan! Kali ini tangannya benar-benar cekatan. Dalam sekejap kertas gambar Yoshi telah berpindah ke tangannya. Dan menyebalkannya, semua ikut berebut ingin melihat gambar Yoshi, hingga kertas gambar Yoshi berpindah dari satu tangan ke tangan lain dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. “Hei, hei… sini dong... Itu kan belum selese aku nggambarnyaaa…”

             Yoshi kulihat berteriak, bahkan sampai terlihat seperti merengek, tapi kertas gambarnya terus saja berpindah. Dimulai dari Liana, berlanjut ke Sulton yang berada tepat di sampingnya, lalu direbut Va yang kemudian berlanjut ke Echa. Sementara aku? Aku jadi orang terakhir yang memegangnya. Apesnyaaa, itu pun tak bertahan cukup lama dalam kekuasaanku. Baru saja tanganku memegangnya, Yoshi sudah keburu menyambernya dari tanganku. “Anjrit!” seruan tertahan sempat keluar dari mulutku. Namun itu tetap tak mengubah kenyataan bahwa Yoshi telah mengambilnya dariku.

            Sialan!

             “Itu gambar mangga kan, Yosh?” aku benar-benar menunjukkan sikap antusiasku. “Aku juga udah kepikiran pengin nggambar itu tadi. Cuman gak tau kenapa susah banget nuangin idenya. Makanya gak jadi-jadi!”

            Ngelesss…

            “Alahhhhh… omdo koe Sus, lah!” Liana melempar remasan kertas gambarnya. “Tadi juga ngomongnya bingung mau gambar apaan. Iya kan, mba brooo…?!”

            Selorohan Liana langsung mengundang hentakan tawa semuanya. Dan tentu saja, aku mencibir, berusaha  membela diriku. “Sssst… jangan keras-keras bisa gak sih, ngomongnya!” sahutku lalu lantang ketawa.

            Hahahahaha…

 “Bukan gitu ngarsirnya Cha.” Setelah puas berkelakar dan memanjakan diri kami dengan berbagai candaan, kami akhirnya kompak mengikuti saran Yoshi dalam menggambar. “Pelan-pelan aja, gak usah buru-buru. Trus lokasi daunnya juga diperatiin… usahakan pilih lokasi yang kalau diliat tuh enak. Sus, kamu kurang tuh jumlah daunnya. Jangan terlalu banyak nanti malah jadinya kayak benang kusut. Tapi juga jangan sampai janggal karena jumlah daunnya terlalu dikit. Pohon jambu kan bukan pohon musim gugur, Sus…”

Semua mulai menggambar sesuai dengan yang Yoshi instruksikan. Bukan berarti kami lantas menggambar pohon yang sama, tapi kami menggambar dengan tekhnik serupa, seperti petunjuk yang Yoshi berikan. Dan wew, aku sama sekali tidak mengira bakal dapet bimbingan dari si Pemurung. Aku menggambar pohon jambu yang idenya kuambil dari pohon jambu tetanggaku, sementara Liana, kulihat menggambar pohon jeruk. Echa─entah apa yang dipikirkannya, tapi dia menggambar pohon coklat. Padahal aku sangsi dia tahu seperti apa wujudnya. Si Beton, sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan gambarnya, yah, kami tidak begitu dekat soalnya. Tapi aku sempat melirik kertas gambarnya, kulihat dia menggambar pohon dengan buahnya yang berbentuk bulat kecil-kecil. Mungkin anggur. Karena jelas bukan kelengkeng kalau kulihat dari bentuknya yang tak punya tangkai cukup besar. Nova jangan ditanya lagi. Dia dengan konyolnya mencoba melukiskan pohon durian yang terus terang, sama sekali jauh dari mirip. Yah─intinya, kami berhasil melakukan satu tugas yang Pak Edi berikan. Dan itu berkat Yoshi.

Hahh..

“Akhirnya… satu udah selese!” Echa melemaskan otot-otot tubuhnya, menghela nafas lega. Setelah akhirnya menyelesaikan gambar kami, aku dan Echa pergi ke toilet yang letaknya tepat di belakang kelas X-08, yang punya nama Stars. Di sekitar kelas kami, serombongan anak cowok masih saja berusaha menerapkan imajinasi mereka. Aku sempat melihat kerjaan Yoga, cowok paling ganteng se-Cleopatra. Dan ternyata memang seperti yang digosipin, dia jago dalam seni rupa. Jelas tidak kalah dari Yoshi. “Buset, Yoga udah sampe gambar person, Cha!” bisikku. Aku benar-benar dilanda kaget 1200 Volt.

“Gila. Kirain kita udah yang paling cepet, Sus!” Echa berdesis, mukanya sampai sedikit memucat dan memainkan rona kepanikan.

“Apa ndol?!” Ardhani berseru, membuat kami nyaris melompat. Kaki kanannya bergerak cepat menendang ke arah aku dan Echa. Kami sukses menghindar, “Brengsek koe ndol lah. Ngagetin!” aku memaki.

Kami terus berjalan, meninggalkan Ardhani yang tertawa bersama teman-temannya termasuk Yoga. Whatever…

Begitu kami sampai di tempat Va dan lainnya, si Echa langsung saja teriak, “Yosh, itu anak-anak cowok udah pada mulai gambar person!”

Tanganku bergerak cepat langsung membungkam mulut Echa. “Sssttt… pelan-pelan dong, see!” bisikku akut. “Jaim tau. Dikiranya kita kalah sama tuh para odong-odong!”

Aku sengaja mengecilkan suaraku yang masih shock agar tidak sampai terdengar oleh anak-anak cowok. Jarak mereka dan tempat kami duduk memang tidak terlalu jauh.

Sialnya, sementara aku dan Echa panik, Nova, Si Beton dan Liana malah asyik menertawakan suatu canda. “Lho, Yoshi mana?” Echa tiba-tiba bertanya.

Seketika, mataku bergerak mencari sosok Yoshi yang ternyata sudah tidak ada di tempat terakhir kali aku melihatnya duduk. Bahkan aku sama sekali tidak menemukannya dalam radius pandangku. “Barusan masih di sini, kok.” Kata si Beton, bingung. Aku sama sekali tidak mengindahkannya, terus memutar pandanganku, menggumamkan berbagai hal yang tak jelas.

“Ke toilet kali?” Nova menjawab santai, dan langsung mendapat bantahan dari aku dan Echa. “Gak mungkin. Kan aku sama Susi baru dari sana. Dan gak ada Yoshi. Ya kan, Sus?”

“Sumpah!” sahutku mantap. Aku beranjak melihat ke dalam kelas, tapi Yoshi tidak ada diantara semua anak yang ada di dalam kelas. Aku coba bertanya, namun jawaban yang kudapat selalu sama. Tidak ada yang melihat Yoshi.

Di tengah kebingungan kami, Pak Edi muncul, menanyakan gambar kami. “Gimana, udah jadi belum gambarnya?”

“Udah pak, tapi ini kita lagi nyari Yoshi.” Sahutku. Tapi bukannya menanggapi ucapanku, Pak Edi malah main samber buku gambarku seenaknya. “Wah, tumben gambar kamu lumayan, Gusti?” kata Pak Edi. Terus terang ini memang pertama kalinya Pak Edi melihat gambarku, lalu tersenyum memujiku. Karena itu aku pun sekejap lupa dengan masalah Yoshi, terbuai dengan pujian Pak Edi. “Ya iya dong pak.  Bagus kan, pak?” Bisa kurasakan senyumku tak hentinya mengembang di wajahku yang langsung berlimpahkan rona ceria.

“Alah, bagusan juga punyaku, pak. Liat nih.” Va seenaknya nimbrung, langsung memamerkan gambarnya pada Pak Edi dengan senyum memenuhi wajahnya. Aku jadi kesal karena Pak Edi langsung saja mengacuhkan gambarku dan beralih pada gambar Nova. “Lah, gambar apa juga gak jelas itu, kan, ya pak?” Timpalku. Mana sudi aku kalah sama Nova.

Pak Edi dua kali mengangguk lalu berkata, “Kok tumben sih, gambar kamu berdua lumayan?” ujar Pak Edi sembari mengangkat sebelah alisnya.

Sialan!

“Masa udah bagus gitu masih dibilang lumayan sih, pak?” keluhku, agak kesal juga capek-capek menggambar, cuma dapat point lumayan. Sudah begitu, si Echa dan Beton ternyata juga tak mau ketinggalan dan berebut menunjukkan hasil gambar mereka. Kasihan, karena belum juga Pak Edi sempat memuji gambar mereka berdua, beliau sudah keburu melihat arlojinya dan berkata, “Wah, kayaknya bentar lagi udah mau habis ini jam pelajarannya.”

Pak Edi memandang kami satu persatu dan tersenyum seraya menambahkan, “Ya sudah. Gambarnya kalian lanjutin di rumah saja, yah. Pertemuan besok dikumpulin. Tapi bagi yang sudah jadi, bisa silakan dikumpulin sekarang. Oke?” guru bertubuh jangkung itu berlalu, masuk ke kelas.

“Yahh…” Echa kompak mengeluh bareng Beton. “Gambar saya gimana nih, pak? Kan bapak belum bilang bagus enggaknya?” Echa nampak merajuk, bibir si Beton mengerucut lucu. Keduanya bergegas mengejar Pak Edi, tapi cuma dapat sambutan senyum Pak Edi. “Udahh, bagus kok,” puji Pak Edi sambil lalu, mengambil kertas gambar keduanya, menaruhnya di meja begitu saja. “Tapi kalian belum ada yang nggambar person, kan? Nah, makanya bapak bilang lanjutin gambarnya di rumah.” Tambahnya.

Sialan!

Pak Edi menepuk tangannya, memberi isyarat pada semuanya untuk segera kembali ke kelas. “Yang sudah jadi silakan dikumpulin. Dan bagi yang belum selesai bisa dilanjutin di rumah.” Katanya. “Tentu saja, yang sudah bisa ngumpulin gambarnya hari ini─bakalan bapak kasih nilai plus. Ayo, buruan!” pungkas Pak Edi, langsung membuat semuanya riuh. Ada yang senang, tapi banyak pula yang mengeluh, seperti aku dan satu sukuku yang masih sama belum selesai menggambar person. Dan saat itu, kulihat Echa memegang sebuah kertas gambar kusut di tangannya. Sebelumnya aku sempat melihat ia memungutnya dari dekat tong sampah di depan kelas. Tadinya kupikir apa, tapi saat aku coba ikut melihatnya, ternyata tak lebih dari gambar gagal yang berakhir dengan banyak coretan.

 

 

<<Project Hida>>

 

Hari Senin itu selalu jadi hari terberat dari ketujuh hari dalam seminggu. Apalagi dengan ulangan Bahasa Arab yang benar-benar membuat kepalaku serasa berputar-putar. Dari semua mata pelajaran, aku paling buruk dalam pelajaran ini. Apalagi dengan Bu Ani yang sentiment banget denganku─mentang-mentang aku selalu dapat nilai merah untuk setiap ulangan harianku. “Gusti. Kamu ini gimana, sih!? Masa disuruh hafalin segitu aja gak bisa-bisa, kamu!”

Yah─omelan seperti itu sih, sudah bukan lagi hal baru yang mungkin hadir mengiang di kedua telingaku. Mau bagaimana lagi? Sistem ulangan yang diterapkan Bu Ani benar-benar membuat kami harus kerja ekstra keras. Dan memang─cara mengajar seorang guru jelas menimbulkan dampak pada kualitas murid didiknya. Bukan aku mencela cara mengajar guru sih, hanya… yah, kuharap para guru tidak terlalu mengekang kami dengan aturan-aturan mereka.

            “Lho, itu kok ada satu kursi yang kosong!? Ini kan masih jam pelajaran. Siapa itu yang gak ada!?”

            Guru berusia empat puluh tiga tahun itu lipat tangannya, dengan mulut dikerucutkan, Bu Ani berkata, “Eka, mana temen sebelah kamu?”

            “Ng, gak tau bu,” Echa menyahut, mukanya nampak cemas bercampur bingung. “Tadi sih masih ada sebelum ibu masuk.”

            Aku sama sekali tidak terkejut dengan kebohongan Echa. Inilah yang kami sebut white lying. Setidaknya, Bu Ani memang tidak perlu tahu sudah seberapa lama si Yoshi pergi. Dan memang tidak ada yang tahu kemana perginya Yoshi. Bahkan aku ragu ada yang peduli.

            Hahh…

            “Ketua kelasnya mana ini?!”

Guru yang aku juluki nenek sihir itu memanggil ketua kelas─dan dengan nada suara yang terdengar seperti sebuah masalah. “Siapa ketua kelasnya!?” sekali lagi Bu Ani memanggil dan semua suara pun langsung dengan ramai menunjuk ke arahku. “Susi, buuu…!”

            Oh, shit!