Cinta Gita Dari SMA (Legenda Pantai Menganti)



Entah siapa yang memulainya, tapi aku sering mendengar bahwa kisah cinta semasa SMA adalah kisah yang tak akan terlupakan sepanjang usia. Sepanjang masa. Tapi aku lebih prefer ke paling berkesan daripada harus menyebutnya paling tak terlupakan. Yah, mungkin intinya sama. Tapi kenyataannya aku justru sering melupakan orang yang kuanggap cintaku semasa SMA dulu. Bahkan satu-satunya tempat dan waktu dimana aku teringat padanya, adalah saat aku harus duduk cukup lama dalam toilet dan tidak ada yang bisa kulakukan selain mengingat berbagai hal, apapun yang terlintas dalam pikiranku. Sebelum dunia akhirnya terjangkit smarphone yang bisa jadi opsi terbaik untuk dilakukan.
Aku lupa nama panjangnya. Bahkan mungkin aku tak pernah menanyakannya. Aku cuma ingat namanya Rio dan aku selalu memanggilnya Afrika. Seperti apa tampangnya itu bagian tersulit untuk bisa aku lupakan. Karena momen pertama aku berjumpa dengannya, adalah ketika seluruh mukanya hitam penuh kotor oleh oli dan semacamnya.
Kami tidak bersekolah di tempat yang sama. Setelah pertemuan pertama kami yang cukup fenomenal, pertemuan kedua kami terjadi dengan cukup sensasional.
“Hai, Amerika. Awas nabrak lagi.” Kata seorang cowok yang… oke, dia cukup tampan. Motornya juga tidak kalah oke dengan catatan, jika yang dia lakukan bukan sok kenal atau sok dekat mungkin aku akan balas dengan senyum manis untuknya.
Tunggu!
Langkahku langsung membeku. Mataku mengrenyit, mencoba memastikan. “Maksudnya apa, ya?” ada yang aneh. Karena cuma satu orang di dunia ini yang pernah memanggilku dengan sebutan Miss. Amerika.
“Kamu? Si Afika yang kemarin itu?”
Oh tidak. Aku terlanjur memasang wajah takjub dengan perbedaan tingkat kegantengan dia yang bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan pertemuan pertama kami.
Oke, sebelumnya aku tidak sempat memperhatikan bagaimana lekuk dan kontur wajahnya adalah satu dari sedikit yang terbaik di dunia. Setelah sedikit chitchat lucu, Prince Afrika menawarkanku segelas jus dan membawa pertemuan kami ke sebuah rumah makan yang cukup terkenal di daerah kami.
“Afrika, kalau kamu mau ngajak aku makan siang, mungkin sebaiknya jangan nasi rames deh. Sama sekali gak romantic tahu ngajak seorang cewek cantik makan nasi rames.”
“Ya kamu gak usah makan, Ta” sahut Afrika.
Aku terhenyak. “Tunggu, itu kamu tahu nama aku!?”
“Kalau gak ingin nama kamu diketahui orang lain, ya gak usah makai nametag.”
Aku reflex menutupi nametag di seragamku. Keningku berkerut kesal.
Dan… eng-ing-eng. Aku benar-benar dibuat menontonnya makan nasi rames sambil berulang kali menelan ludahku.
“Heh, Afrika. Kamu serius bawa aku kesini cuma buat melototin kamu makan begini?” tanyaku. Sedikit kesal. Nyaris beranjak dari kursiku saat mendadak salah seorang pramusaji datang menghidangkan semangkuk sup dengan nasi yang dipisah.
“Di sini gak cuma ada rames juga kali.” Kata si Afrika. “Oh, lupa. Namaku Rio. Tapi kamu mau panggil aku apa itu terserah kamu.
“Dan asal kamu tahu. Diantara semua menu yang ada di sini, sup di depan kamu itu merupakan hidangan nomer satu paling favorit di kota ini. Tapi aku lebih suka rames.”
Tidak salah, sup yang kemudian aku nikmati dengan lahap itu memang punya rasa yang beda bahkan dari sup masakan nenek.
“Gimana, enak kan?” Tanya Afrika.
Aku tak mengindahkan mukanya yang tengah dikuasai senyum kemenangan. Dan kami kembali ke tempat yang sama dengan menu makanan yang sama satu minggu kemudian. Dan tebak, di hari yang sama. Seolah itu sudah masuk dalam schedule dia untuk makan nasi rames di hari sabtu jam tiga sore.
“Kenapa gak dimakan. Kemarin kamu sampai minta nambah,kan?” selorohnya. Dan lagi-lagi yang dipesan Rio sama. Nasi rames dengan tempe goreng untuk lauknya.
“Karena aku bukan orang yang makan menu makanan yang sama setiap harinya, seperti orang Afrika idiot yang ngajak jalan seorang cewek cuma ke warung nasi rames.”
Rio tertawa begitu saja dengan semua yang baru saja kukatakan, dengan segala raut muka bête yang kubuat segahar mungkin. “Yang ngajak jalan kamu emang siapa, orang aku cuma ngajak kamu makan siang?”
Aku cemberut dan Rio justru ganda tertawa. “Ayolah, Ta. Bukannya makan di kafe atau di resto-resto itu sudah terlalu biasa di jaman sekarang ini? Berhentilah berpikir seperti orang-orang pada umumnya, karena itu yang akan menjadikanmu berbeda.”
“Oh, ya? Terus kamu nganggep diri kamu ini beda, karena di saat cowok lain ngajak cewek makan di sebuah resto dan kamu sendiri justru memilih nasi rames dan sup?”
Aku ingin sekali beranjak dan lari, lalu kali berikut si Afrika ngajak jalan sekali lagi aku tinggal menolaknya dan habis perkara. Tapi Rio menghentikan gerakanku saat kemudian berkata, “Ini tempat aku biasa makan sama ibu. Dulu sekali, waktu aku masih kecil dan ibu belum sesibuk sekarang ini.
Aku tertegun, bahkan lidahku membeku. Entah apa yang harus kukatakan untuk membalasnya atau setelah semua yang kukatakan sebelumnya. Aku nyaris berkata “O, o…” tapi kuurungkan. Kurasa itu tidak baik dilakukan saat seseorang sedang berbicara mengenai sesuatu yang sensitive seperti momen terbaik atau kenangan yang baginya terus hidup bersama setiap suap nasi rames yang masuk ke mulutnya.
“Aku cuma ingin menunjukkan sama kamu seperti apa aku sebenarnya. Aku bisa ngajak kamu ke resto atau tempat mewah lain kalau kamu mau. Tapi itu sama sekali bukan aku. Itu bukan hidupku, bukan duniaku.”
Sebelumnya aku pikir bakalan ada semacam jurang pemisah diantara kami berdua setelah kami saling diam selama sisa waktu kami berada di sana. Tak disangka, begitu aku selesai dengan sup yang kumakan dengan perasaan campur aduk Rio mengajakku berkendara dengan motor trailnya dan itu menjadi perjalanan terkonyol sekaligus paling mengagumkan yang pernah kulakukan.
“Afrika, kamu ini sinting tahu nggak?” aku berteriak seraya menahan tawaku diantara deru angin yang terbelah wajahku.
Karena kalau ditanya kemana, maka aku tak bisa dengan pasti menjawabnya. Karena yang kami lakukan hanya berkendara kemana dua roda berputar membawa kami berdua seraya mengobrol dan bertukar canda. Rio bilang ini Seven Wonder Trip, karena kami melintasi tujuh tempat wisata yang ada di Kebumen hanya dalam waktu kurang dari setengah hari. Mulai dari Jembangan Wisata Alam yang teredekat, kemudian kami menyisir jalanan ke timur dan tiba di Wisata Waduk Wadaslintang. Dari sana kami menuju ke selatan dan menjumpai satu persatu pantai yang ada di kota kami. Kami sama sekali tak menghentikan laju kendaraan kami sebelum akhirnya sejenak rehat di pantai terakhir, Menganti.
“Kamu tahu, mengapa Pantai ini disebut PantaiMenganti?”
“Memangnya aku harus tahu?” sahutku. Kami duduk di atas sepeda motor dan memandang mentari yang perlahan turun dari tahtanya. Dinginnya angin membelai rambut panjangku dan menerbangkannya ke arah cakrawala.
Rio angkat bahunya. “Maybe,” ucapnya seraya menunjukkan senyumnya.
“Dari sekian banyak orang yang berkunjung kesini, mungkin cuma sedikit dari mereka yang peduli. Walaupun ini tempat yang indah, namun dulunya ini tempat seseorang terus menanti kekasihnya yang tak kunjung menemuinya. Dia terus menanti, meski sang kekasih tak juga menepati janji. Karenanya disebut Pantai Menganti. Tempat seseorang menanti cintanya sampai mati.”
Saat itu aku merasa kalau Rio benar-benar serius dengan ceritanya. Karena penasaran, bahkan sesampainya aku di rumah pun aku langsung coba mencari kebenaran cerita Rio lewat internet dan memang banyak referensi yang membenarkan cerita si Afrika. Tapi aku sedikit khawatir dengan cara Rio menyampaikan cerita tersebut. Dan perasaan tidak mengenakan itu akhirnya benar-benar terjadi.
Lebih dari setahun kami jalan dan tanpa satu pun rintangan atau masalah yang bertiup ke arah kami berdua. Lalu aku yang telah menyelesaikan studiku di SMA, akhirnya harus pindah dan pulang ke tempat ayah dan ibu di Bandung.
“Bisa kan kita tetap sama-sama, walaupun besok kita tidak lagi tinggal di kota yang sama?”
Tak pernah ada angin yang bertiup dan menggoyahkan kami. Dan sekalinya datang, angin itu berhembus laksana badai memporakporandakan segalanya. Rio tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya pergi masuk ke rumahnya, tanpa satu pun kata terucap dari mulutnya. Berulang kali aku coba menghubunginya, namun si Afrika tak juga megangkat telponnya. Bahkan tak satu pun pesanku yang dibacanya.
Dan ketika akhirnya kami kembali bertemu muka, Afrika terlihat seperti biasanya. Kami mengobrol seperti tak pernah ada percakapan tentang kepergianku. Bahkan kami lagi-lagi berkendara melakukan Seven Wonder Trip seperti yang selalu kami lakukan. Hanya saja, kali ini tak banyak yang bisa kubicarakan. Aku tetap merasa meski terlihat biasa, Afrika masih tetap diam seribu kata.
“Jadi ini Trip terakhir kita?” tanyaku. Bibirku nyaris bergetar hanya untuk sekedar menanyakannya. Dan Afrika masih tak bergeming dari kebisuannya.
“Aku capek melihat seseorang terus menunggu setiap harinya, Ta.” Kata Afrika pada akhirnya. “Sampai sekarang pun ibu masih terus menunggu kepulangan bapak yang entah ada dimana.
“Aku capek, marah, dan aku nggak ingin melakukan itu semua.”
“Itu memang nggak akan terjadi, Rio. Yang akan terjadi itu bukan aku ninggalin kamu, tapi…”
“Tapi kamu jauh dari aku. Sama saja kan?”
“Tapi kita masih bisa sms, telpon. Jangan seperti anak kecil gini dong.”
Rio tersenyum simpul. “Kamu yang seperti anak kecil, Gita. Berpikir semua angan-angan kamu tentang hubungan jarak jauh kita pasti akan berhasil. Berpikir semua yang kamu rencakan pasti akan terwujud begitu saja.”
“Tapi setidaknya kita harus mencoba. Kalau kamu memang beneran sayang sama aku, ya dicoba dong Rio. Karena walaupun mungkin kita bakal jauhan, tapi hati kita bisa terus berdampingan. Dan kamu sadar kalau kita punya pilihan untuk itu, kan?”
“Aku sudah melihat ibu membuat pilihannya, Gita. Sebuah pilihan yang nggak pernah aku suka. Karena pilihan itu yang selalu menjadi alasan ibu menangis sepanjang malam. Pilihan itu yang menjadikan aku nggak bisa mengambil pilihan yang sama dengan yang pernah ibu lakukan.”
Aku gagal meyakinkan Rio dan kami pulang dengan penuh keheningan. Dan itu jadi kali terakhir pertemuan kami berdua. Tak peduli berapa hari aku menunggu Afrika tak juga menghubungiku. Tak peduli berapa kali aku ingin menghubunginya, ada rasa yang pada akhirnya menahan jemari dan tubuhku untuk memulainya. Dan hari keberangkatanku pun tiba. Aku berkemas dengan perasaan risau dan tak karuan. Berat bagiku untuk pergi jika hatiku tetap tak turut beranjak bersama langkahku. Dan di detik ketika ibu menyuruhku bergegas, akhirnya aku memberanikan diriku, mencoba menghubungi Rio sekali lagi. Namun yang kudengar cuma, “Tut, tut, tuuut…”
Setidaknya aku sudah berusaha meski berakhir sia-sia. Tapi bertahan seorang diri itu keputusan bodoh yang hanya akan menyakiti diri sendiri. Benar kan, Rio?
“Hai, Amerika.”
Satu suara tiba-tiba mengejutkanku.
“Hanum. Gila kamu, ya. Bikin kaget tahu!” nyaris saja aku berteriak dan memanggil Rio, karena cuma Rio yang memanggilku Amerika.
Hanum tertawa dan nampak begitu menikmati ekspresi keterkejutanku. Teman satu SMP-ku itu bahkan ganda tertawa ketika melihat mukaku yang memerah karena malu.
“Cucu monyet. Tertawa saja terus sampai mampus!” ketusku. Dengan manja kupeluk ibu yang terlihat bingung sendiri sementara nenek justru ikut menertawakanku.
Hanum merupakan satu dari sedikit sahabat yang tahu hubunganku dengan Rio. Dari semenjak SMP kami selalu tak terpisahkan sebagai Trio Bebek bersama Alfia yang telah lebih dulu jauh dari kami karena masuk di sekolah asrama.
“Oh iya, barusan Fia titip salam,” kata Hanum. “ Padahal aku sudah bilang kalau dia bisa ngomong sendiri aja sama kamu Ta. Sekarang kan udah mulai banyak tuh, sms, chat. Kenapa juga dia masih nitip salam segala. Ah, kudet si Fia.”
Aku mengulum tawaku. Paham sekali alasan kenapa Fia yang jelas-jelas sejak semalam sibuk chat sama aku tapi sekarang malah nitip salam lewat Hanum. Cinta memang selalu datang satu paket bersama kejutan-kejutan yang tak terbayangkan. “Ya, nanti biar aku chat dia pas di bus.”
Klakson mulai dibunyikan dan mau tidak mau, aku dan ibu harus berangkat. Dan sampai di situlah kisah Amerika dan Afrika yang pernah sama-sama memiliki mimpi. Mimpi untuk terus saling memiliki yang mungkin akan tetap menjadi mimpi.
“Jangan lupa bekalnya nanti dimakan itu loh, Ta,” nenek mengingatkan. Aku terlalu terharu untuk bisa menjawabnya dan hanya bisa mengangguk mengiyakan. Nenek yang sudah susah payah merawatku sedari aku kecil. Nenek yang selalu rajin banget ngomel kala aku nakal dan malas sekolah. Dan kini kta harus jauhan. “Gita bakalan sering jenguk nenek, kok.” Akhirnya aku tak kuasa menahan tangisku.
 Dan Rio benar-benar menghilang. Dia bahkan sama sekali tak datang mengantar kepergianku. Sama sekali tak menulis pesan atau menelponku. Itulah kenapa rasa itu begitu berkesan untukku. Begitu menyentuh hidupku. Dan malam itu menjadi perjalanan paling tak terlupakan bagiku. Karena saat aku membuka bekal pemberian nenek, aku terkejut sekaligus tersenyum haru dengan yang kutemukan. Sebungkus nasi rames dengan kantong plastik bertuliskan ORIS, Warung Makan Dan Jajanan Kutowinangun, Kebumen, bersama sepucuk memo yang membuat mataku berkaca.
Aku gak akan menanti sampai mati. Jadi cepatlah kembali

Afrika

“Kamu kenapa Ta? Nangis?”
“Gak papa, bu. Cuma ngecek bekal pemberian nenek tadi. Dan gak tahunya enak banget sampai kebawa perasaan gini.” Aku mencoba tersenyum dan menyeka mataku.
“Bukannya itu nasi rames? Di mana-mana juga banyak yang gituan. Lebih enak malah.”




By: Hida


Catatan Harian Bidan: The VT Warrior


        Seseorang pernah berkata padaku bahwa hidup itu penuh kejutan. Dan beberapa kejutan memang tidak datang membawa kenyamanan. Karenanya terkadang aku tidak benar-benar siap menyambut berbagai twist yang mungkin terjadi dalam hidupku. Seperti Mr. One yang selalu kunomer satukan dan kini justru menghilang pergi meninggalkan.
            Yah, jalan kaki saja bisa lelah, jadi bukan mustahil kalau hati pun sanggup merasa letih kan? Lagi pula apapun yang terjadi hidup terus berjalan. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena satu atau bahkan ribuan orang patah hati. Tapi untuk saat ini aku ingin sejenak mengambil nafas sebelum nantinya kembali melanjutkan langkahku. Dan lagi, masih ada pertempuran lain yang membutuhkanku.
           Berangkat pagi pulang sore itu sudah biasa. Dan tak terhitung berapa jumlah pertempuran yang telah kulewati dan jiwa yang kuselamatkan selama bertugas sebagai VT Warrior di Bataliyon Tiga Kebumen.
              “OEEK, OEEK…”
            Bagi orang lain mungkin hanya sekedar suara tangis bayi, tapi bagi kami para VT Warrior atau bahasa kerennya bidan, suara itu juga merupakan sinyal tanda kemenangan kami. Walau terkadang aku benar-benar ingin muntah kalau sudah terkena serangan ledakan air ketuban.
               Hoeek…
           “Mba, ini lho si calon pengantin,” gurau pak Eko sembari menyalami segenap bidan yang hadir dan otomatis mengundang sorot mata ke arahku ketika Pak Eko lantas menunjuk ke arahku.
               “Nunggu apa lagi kamu Tam? Menikah gak harus jadi PNS dulu lho.”
          Sudah begitu dua bidan turut pula melempar amunisi mereka, “Iya, Tam. Saya dulu juga menikah belum PNS kok.” Kata Bidan Kiki dan dilanjut Bidan Har yang menimpali, “Jangan seperti saya lho Mba Utami. Menikah udah lumayan umurnya, kasihan anaknya.”
              Dan aku cuma bisa pasang senyum kecut yang kupoles dengan barisan gigiku agar tak begitu terlihat syok. Belum juga aku membalas ucapan mereka, Pak Eko sudah kembali membuka suara, “Udah segera aja. BRASBRESS. Lebih cepat kan lebih baik.”
              Lalu sekejap kemudian Ika yang notabene sudah menikah dan merasa aman pun meledakkan tawanya.
          “Hehe, minta doanya pak, bu. Semoga lekas disegerakan,” kataku seraya ikut tertawa walaupun cuma pura-pura.
             Fuuh
           Terus terang itu pertempuran yang lebih menyeramkan dari semua pertempuran yang kulalui di medan persalinan. Dan lagi hal itu sekilas mengingatkanku pada Mr. One. Sekian lama terjalin sampai beda pulau dan zona waktu pun tetap kupertahankan, dan pada akhirnya jalan kami tak membentur menjadi satu tiitik yang sama. Perbedaan diantara kami yang tadinya hanya sebatas pulau dan zona waktu kian melebar hingga terlalu jauh untuk kami tetap beriringan.
           Sisi liarku kadang berkata, bukankah dia pergi karena aku tak lagi dianggapnya layak untuk dipertahankan? Tapi pertanyaan itu kemudian justru melemparku ke pertanyaan lainnya. But WHY?
Apa karena aku bukan orang dengan duit yang melimpah? Bukan perempuan yang bisa memberinya kehidupan yang wah?
             STOOOP!
       Aku benci kalau pikiranku melemparku sampai sejauh itu. Meski pada kenyataannya penghasilan kami memang jauh berbeda. Karena VT Warrior bukan profesi yang menjanjikan banyak uang seperti yang mungkin banyak orang pikirkan. Dan hal itu yang terkadang membuatku menyesal karena sudah tidak ikut nasihat bapak.
        Aku bangga menjadi seorang VT Warrior. Meski bukan itu yang kucita-citakan dari awalnya. Masih ingat dulu ketika masih SMA dan ditanya soal cita-cita, aku dengan lantang menjawab, “POLWAN!”
       “Serius, Tam? Kalau aku sih dari dulu pengin mendalami seni lukis kalau gak desain.” Tanya Kurniawan, salah satu teman satu SMP yang masih betah sampai jadi teman SMA juga. (Cerita tentang Kurniawan bisa disimak dalam cerita sebelumnya berjudul: Aku Bukan Nurbaya)
         “Serus dong. Tapi aku juga pengin jadi dokter juga sih, se. Jadi mungkin kalau Polwan gak jadi ya dokter bisa lah.” Kataku melempar senyum ke udara yang entah sampai mana senyumku akan melambung bersama cita-citaku. Mungkin sampai saat Mba Ari mengingatkanku kalau sekolah di Fakultas Kesehatan itu jelas MAHUAL. Dan senyumku pun hilang seketika. Pecah dan berhamuran di angkasa. Belum lagi ketika aku dihadapkan pada kenyataan bahwa tinggi bodiku sama sekali tidak masuk kriteria Polwan.
           Mampus deh!
         Karena itu di akhir semester kelas XII aku hanya bisa diam ketika teman-teman yang lainnya justru sibuk dengan pendaftaran kuliah mereka. Secara semenjak aku berasa tak punya cita-cita usai dua rencana besarku kandas tanpa sempat memulainya, aku tak tahu lagi akan melangkah kemana. Mau jadi atlit badminton tapi kemampuan cuma pas-pasan juga. And believe me, hidup tanpa cita-cita itu sama sekali gak asik. Hingga akhirnya, rapat besar keluarga pun diadakan dengan topik utama, “Kuliah Si Bontot”
         “Ke STIKES Gombong aja ya Tam. Ambil D3 keperawatan,” usul Kak Eti. Namun langsung mendapat sambutan tidak menyenangkan dari bapak.
           “Terus terang bapak gak sanggup biayai kamu di keperawatan.”
Ruang pun sunyi senyap seketika. Oke, sebenarnya aku juga sama sekali tidak ada passion dengan itu, jadi jujur aku lega karena bapak juga tidak setuju. Tapi ucapan bapak benar-benar membungkam suasana.
        “Kamu,” bapak agak ragu meneruskan. “Kalau daftar di keguruan saja gimana? Biaya gak begitu mahal…”
            “Tami gak mau jadi guru, pak.”
           Giliran suaraku yang membungkam seisi ruangan. Bapak sampai terkejut, begitu pun Mba Eti dan Mba Ari. Dan sesaat kemudian, aku sadar bahwa apa yang kukatakan begitu egois. Saat itu aku sama sekali tak tahu harus berkata apa lagi selain maaf. Tapi ibu berhasil menenangkan bapak dan kakak-kakak sekalian juga tidak ada niat memaksaku. Namun rapat besar berakhir dengan hasil nol besar.
       Karena pada akhirnya aku tidak tahu harus masuk kuliah jurusan apa, aku coba bekerja sekenanya di Ibu Kota hingga di tahun berikutnya, akhirnya aku resmi menjadi anak AKBID setelah permintaanku untuk masuk informatika juga tidak diluluskan.
Jadi memang benar bahwa hidup itu penuh kejutan. Aku yang sama sekali tidak ada niatan awal masuk kebidanan, kini pulang pergi naik turun gunung setiap harinya dengan pin Pack-Man berslogan Kami Siap Melayani bertengger di seragamku. Yang artinya aku siap bertempur melawan muncratan darah maupun ledakan ketuban yang membahana. Lagi pula…
            “Tami, mantai yuk?” ajak Lintang.
            “Mantai? Kemana?” tanyaku. Dan bau-baunya Aku bakalan batal berkemas pulang.
            “Si Ika ngajak ke Bocor. Buruan ayuk.”
          Aku tersenyum seiring Lintang menyeret langkahku keluar dari Bataliyon Tiga kami, atau yang akrab di mata orang-orang dengan sebutan Puskesmas Kebumen III. Jadi VT Warrior bukanlah pekerjaan mudah dan bergaji mewah. Tapi aku percaya bahwa kebahagiaan bukan datang dari keduanya. Lagi pula, saat aku tidak bisa menemukan kebahagiaan kala ku sendiri, aku selalu bisa menemukan kebahagiaan itu bersama teman-temanku. Kami para pendekar tali pusat, kami sang VT Warrior.

           TUT TUT TUUUT
       Salah satu tantangan yang harus dihadapi seorang bidan atau the VT Warrior, adalah tidak teraturnya waktu istirahat. Karenanya kadang aku benci dengan dering telpon dan memutuskan untuk membunuh suara ponsel selama jam tidurku di rumah. Dan sialnya, kali ini aku lupa melakukannya.
           “Tami, kapan ke Jogja?”
           “Oh, Deprut. Kenapa emangnya?”
       “Ya kali kita kan udah lama gak ketemu nyet. Ajak si Bunga juga sekalian. Nanti biar aku ngomong ke Cemplok sama Mintol”
        “Masalahnya aku kerja bukan di Bataliyon moyang sendiri nyet. Jadi gak bisa seenaknya ngambil libur gitu aja trus gas motor ke Jogja. Lagian terakhir aku ke Jogja bulan kemarin, aku BBM kalian pada gak ada yang respon juga.”
            “Alah udah pokoknya kamu atur aja kapan bisa ambil libur trus kabarin aku biar sisanya aku yang urus. Oke nyet?”
         Belum juga aku kembali membalas tuntutan seenak jidatnya, suara Devi sudah lebih dulu menghilang sirna. Telpon ditutup sepihak tanpa Devi mau mendengarkan penjelasanku. Tapi aku terlalu letih untuk memaki atau mengumpat dan akhirnya aku memilih untuk kembali melanjutkan waktu tidurku yang berharga. Karena VT Warrior tak pernah tahu kapan harus tetap terjaga.



To be continue…




By: Hida

Bukan Salah Cinta Memilih Siapa

“Kehidupan gak bakalan berhenti hanya karena satu kesedihan di hidup kita,” sampai sekarang aku masih tak percaya kalau semua itu  keluar dari mulutku. Pun dengan beranggapan bahwa setiap orang punya masalah. Dengan harapan semua itu pun dapat memicuku dalam menghadapi lembaran kisahku yang sebenarnya juga tak bisa disebut indah dan tanpa masalah. Karena di saat yang sama aku pun tak jauh berbeda. Dan yang membuatku seringkali ironis tertawa, adalah justru karena sebagian kisah sedih yang pernah aku temui hampir semua berakar dari cinta. Beberapa lebih parah karena keluarga, seperti yang terjadi pada sepupuku. Bahkan aku sendiri.
Lahir dalam keluarga dimana semua orang yang kau kenal tumbuh menjadi sesuatu yang dianggap membanggakan itu tidaklah mudah. Aku sudah berusaha sekeras yang kubisa untuk bisa berada di lantai yang sama dengan dua kakakku, mereka yang selalu dibanggakan ayah kami karena berhasil mengikuti jejak beliau yang dulunya seorang pengajar, sebelum akhirnya dilantik jabatan menjadi seorang Kepala Sekolah. Namun batasku jauh lebih jelas terlihat dari yang kutakutkan. Aku gagal lulus Ujian Masuk Universitas. Dan di garis akhir itu, tak satu pun yang mengingat betapa gigihnya aku berusaha, sendirian aku berdiri tanpa satu pun dari mereka memberiku keberanian untuk kembali mencoba.
Dan di sinilah aku. Berdiri dengan satu-satunya hal yang kusukai bahkan dari semenjak aku kecil. Ayah dan ibu selalu kurang suka ketika aku lebih mementingkan hobiku memotret tinimbang bergelut dengan segala buku mata pelajaran sekolahku atau mengerjakan PR-ku. Dan percayalah bahwa kita tak pernah tahu kemana hobi akan membawa langkah kita jika kita serius menekuninya. Karena bahkan kamera mempertemukanku dengan seseorang yang untuk pertama kalinya dalam hidupku, memberi rasa yang melebihi segala yang pernah kurasakan sepanjang hidupku.
Sebut saja Heru. Begitu cara dia memperkenalkan dirinya di sebuah meetup komunitas pecinta lensa yang kuhadiri di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sebuah kedai Es Krim dan Waffle yang disepakati sebagai titik berkumpul kami.
Cuma pertemuan biasa yang jujur sama sekali tak meninggalkan feel apapun saat itu. Namun pekerjaan dan hobi yang sama membuat kami beberapa kali bertemu setelahnya. Usia kami terpaut cukup jauh, tapi siapa peduli pada hal semacam itu di jaman sekarang ini? Dan ketika akhirnya kami kembali bertemu di Twin Brother, Kedai Es Krim tempat pertama kali kami bertemu, Heru menyatakan perasaannya. Lewat waffle dan Es Krim yang dihias sedemikian rupa hingga tak ada wanita yang terlalu bodoh untuk tidak mengerti maksud semua itu.
“Kamu serius, Heru?”
“Belum pernah seserius ini, Ul. Jauh-jauh booking tempat, nyiapin ini semua dan cuma buat kamu. Karena kamu, Ulin.
“Kamu boleh bilang tidak. Dan terus terang aku gak bakalan cukup siap buat mendengar kamu menjawabnya. Tapi aku tetap melakukan ini semua, Ul. Karena aku sayang kamu, karena aku gak tahu perasaan kamu dan inilah momen yang seharusnya gak boleh aku lewatkan untuk mengatakannya. Untuk tahu gimana perasaan kamu.”
Dia orang biasa, dengan kehidupan yang bagiku cukup istimewa sebenarnya. Karena sebagai penggelut hobi dan pekerjaan yang sama, Heru jauh lebih mengerti aku bahkan dari kedua orang tuaku sendiri, dari keluargaku sendiri. Sudah cukup lama Heru masuk dalam kehidupanku. Lebih dalam bahkan dari yang mungkin dia pikirkan.
Setelah sikap dingin semua penghuni rumah karena kegagalanku masuk universitas, saat itu aku sadar bahwa semua yang aku perjuangkan selama ini salah. Aku bersusah payah belajar dan melakukan banyak hal yang sebenarnya tidak aku sukai, demi apa? Demi orang-orang yang bahkan buta dari segala yang terpapar di depan mereka. Orang-orang yang duduk di tahta yang sebenarnya tak seberapa. Dan hanya karena aku tak sejajar dengan mereka, bahkan mereka seolah tak menganggapku ada.
Aku tak perlu banyak berpikir ketika akhirnya aku menjawabnya. Karena di balik segala keceriaanku, di balik semua tawa candaku, aku sama sekali tak punya alasan untuk berkata tidak padanya. Aku tak terlalu hebat dalam mencurahkan perasaan atau masalahku pada seseorang. Aku justru lebih hebat menyembunyikan semua itu dari dunia. Namun selalu saja, Heru seolah mengerti itu semua. Setiap luka, setiap air mata, bahkan meski tak sepatah katapun pernah aku mengatakannya. Bahkan meski tak sekalipun aku pernah memperlihatkannya. Dia orang biasa, yang entah mengapa selalu ada.
Aku masuk lebih dalam ke duniaku yang sesungguhnya, duniaku yang seharusnya. Dengan mata lensa yang membuatku melihat dunia dari sisi yang berbeda. Sisi yang membuatku merasa lebih hidup diantaranya. Dan tatapan dingin mereka terasa makin menggila. Sindiran-sindiran mereka menghunus lebih tajam setiap harinya, membuatku harus cukup terbiasa dengan kegilaan mereka atau aku juga akan ikut gila bersama mereka. Lalu aku coba tertawa, aku coba mereka canda. Cara terbaik yang aku tahu untuk menyimpan dan mengunci rapat itu semua dari dunia. Namun luka tetaplah luka. Selalu ada dan hanya tersembunyi di balik tawa dan canda.
“Heru, kamu tahu kan sebelah mana tempatnya?”
“Mas Adik sama Mba Santi sih bilangnya di JalanSumarwi, sebelah timur Taman Bunga. Sedikit lagi sampai kok.”
Kami hendak melakukan booking tempat di kedai kenangan kami, ketika Mba Santi selaku manager di Twin Brother kemudian justru mengundang kami untuk menghadiri acara pembukaan kedai baru mereka. Satu tahun lebih kami jalan. Dan tidak ada yang terlalu istimewa hingga harus kuceritakan satu persatunya. Kalaupun ada, Heru lah keistimewaan itu sendiri. Heru lah yang menjadikan setap momen yang kulewati terasa begitu berarti. Kalimat yang rasanya selalu ada di tiap roman picisan manapun. Yah, dari awal juga aku tak pernah bilang kalau kisahku ini istimewa.
“Wah. Ulin, Heru. Kita sudah nunggu kedatangan kalian dari tadi. Kemana saja sih kalian kok baru nongol. Ayo masuk.” kata Mas Adik, salah satu pemilik kedai yang juga anggota di Komunitas Pecinta Lensa.
“Biasa ini Mas Adik. Weekend bukan waktu yang tepat untuk berkendara dengan cepat.” Sahutku. Sebagai kota dengan banyak destinasiwisata, Wonosari memang punya tingkat traffic yang buruk di akhir pekan.
Bersamanya, perlahan aku memaafkan mereka. Menerima seperti apapun yang namanya keluarga. Aku belajar melakukannya. Bahkan kini terkadang aku justru merasa kasihan dengan mereka. Karena di balik mereka yang membanggakan status sosial mereka sebagai pegawai negeri bergaji tinggi, mereka tidak bisa melakukan semua yang selalu kulakukan. Heru yang mengatakannya, ketika aku bercerita bahwa keluargaku semuanya pegawai negeri dan hanya aku yang  tak bisa naik ke lantai yang sama dengan mereka. Heru lalu bilang, “Kalau begitu mereka yang rugi. Harusnya mereka yang iri sama kamu loh, Ul. Mereka bekerja dengan frame yang sama terus menerus. Sedangkan kamu, orang seperti kita terus berkreasi dan bekerja dalam lingkup frame yang berbeda setiap kalinya. Kita yang berkerja dengan sebuah ide akan selalu menemukan hal baru yang mungkin tidak akan mereka temui di garis pekerjaan mereka.”
Aku bahagia. Karena hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku adalah bertemu dengannya. Memilikinya, meski pada akhirnya aku harus merelakannya. Karena mungkin sejak semula, dia tak pernah jadi milikku seutuhnya.
Semuanya terjadi begitu saja. Serasa cepat namun waktu seolah berkeja begitu lambat. Kami sama-sama pulang karena urusan keluarga. Heru sempat berdebat dengan klien tentang bagaimana kami tak bisa menangani sendiri permintaan mereka dan terpaksa mengirim partner kerja kami sebagai perwakilan. “Pristian akan menggantikan posisi saya dan Ulin. Dan saya jamin hasilnya gak akan mengecewakan. Saya sudah lama mengenal dan bekerja sama dengan mereka, salah satu dari sedikit tim fotografer terbaik yang saya percaya untuk menangani pekerjaan saya.”
Dari dulu aku tak pernah benar-benar suka dengan acara keluarga. Tidak dengan semua orang yang kukenal memandangku dengan bereda. Yah, aku tak punya piala atau piagam seperti mereka. Apalagi lembaran kertas sakti yang bisa berubah menjadi jutaan uang sesuai yang kuinginkan. Dan satu-satunya orang yang membuatku datang ternyata juga tidak hadir.
“Cuma berdua pakde?” tanyaku, ketika tak juga berhasil menemukan satu-satunya sepupuku yang lucu.
“Ah, adik kamu lagi gak enak badan itu, Lin. Jadi kali ini gak ikut.” Bude menjawab. Dan sepertinya pakde Tamim justru agak terganggu dengan pertanyaanku. Yah, aku bukan satu-satunya orang dengan keluarga yang bermasalah. Beberapa waktu sebelumnya aku sempat berkunjung dan dia tengah bermasalah dengan kencan pertamanya. Mungkin masih jadi melo drama yang entah kemana ujungnya. Dan rasanya aku perlu berkunjung usai acara membosankan ini. Arisan memang tak pernah masuk dalam salah satu acara yang kuminati. Aku bahkan tidak hafal nama mereka satu persatunya. Dan lagi dengan apa yang kemudian terjadi setelahnya. Saat salah satu keluarga maju dan mengumumkan bahwa anak mereka akan segera menikah bulan depan, lalu kulihat wajah yang sangat tidak asing diperkenalkan kepada kami semua.
“Namanya Heru,”
Sakit? Butuh lebih dari sekedar itu untuk menggambarkan apa yang kurasakan. Aku menyimak ucapan itu dengan panas merayap dari dalam dadaku. Dan aku tak mau melewatkan satu patah kata pun darinya. Kata demi kata yang meluluh lantakkan segalanya.
Aku memang tak suka dengan acara keluarga. Bahkan Heru tahu itu. Bahkan Heru pun sama tak sukanya denganku. Dan kini aku lebih tidak ingin berada diantara orang-orang itu. Tidak setelah apa yang mereka lakukan padaku.
“Kita memang tidak cocok berada di ruangan itu. Kan?”
Heru berdiri di belakangku. Aku kenal suaranya. Tanpa menoleh pun aku tahu kalau dia bahkan lebih tenang dari yang kupikirkan. Nada suranya terdengar seperti Heru yang biasanya. “Ya, makanya aku mau pulang.” Kataku, mencoba menahan sesuatu yang perlahan menghimpitku dari dalam dadaku. Namun tetap saja mata ini berkaca. Aku mencoba tertawa, berusaha mereka canda seperti yang biasa kulakukan untuk menutupinya. Dan tetap saja mata ini berkaca.
“Sempurna, ya? Kebetulan kita sama-sama ada urusan keluarga dan harus pulang ke Kebumen. Ternyata kita punya lebih banyak kemiripan dari yang selama ini aku kira.”
Heru tak berkata apa-apa. Tidak setelah orang tuanya memanggilnya dan aku melangkah pergi meninggalkannya. Memastikan aku menghilang dari pandangannya.
Sudah lama aku tak menjadikan rumah sebagai tempat untuk aku cukup lama menetap. Aku lebih suka kembali ke rutinitasku secepat yang aku bisa. Tapi sekali ini itu juga bukan pilihan yang aku suka. Aku coba pergi ke tempat sepupuku dan memastikan ia baik-baik saja mengingat ia bahkan tidak hadir di acara keluarga yang konon sakral katanya. Dan bahkan ia pun tak jauh lebih baik ternyata. Setidaknya aku bukan satu-satunya orang yang bermasalah dengan cinta. Welcome to theparty.
Akhirnya, pilihan yang tersisa memang kembali ke pekerjaan dan menghadapi apa yang memang sudah semestinya. Dan seperti yang juga kukatakan pada sepupuku secara frontal atau tidak sengaja. “Dunia masih belum berakhir. Kehidupan gak bakalan berhenti hanya karena satu kesedihan di hidup kita.”
Tapi bahkan satu kesedihan bisa menjadi sebilah pedang mematikan jika dihunuskan tepat ke  jantung kita.
Aku mencoba untuk bersikap biasa. Heru menjelaskan semuanya dan aku berusaha untuk menahan diri dan mendengarkan segalanya. “Aku tak punya pilihan.”
“Ya, dan itu juga yang dikatakan seseorang yang aku kenal dengan baik.
“Sepupuku. Dan aku harap kamu bisa lebih baik dari ini, Heru. Karena kamu yang saat ini, bukan Heru terbaik yang aku kenal selama ini. Tapi, its okay. Itu keputusan yang harus kamu tentukan sendiri. Kamu cowok. Dan sekedar mengingatkan barangkali kamu lupa, kita ini masih keluarga.”
“Keluarga jauh.” Sahutnya. “Dan kita gak pernah tahu sampai belum lama ini. Lalu berubah semuanya. Kamu, kita.”
“Oh, enggak Heru. Bukan begitu urutannya. Karena kita sama-sama tahu kalau semua ini dimulai dari kamu.”
 Kami bertengkar untuk pertama kalinya. Untuk pertama kalinya, kami punya pendapat yang berbeda. Heru berharap aku mengerti dengan keadaannya, begitu pula aku sebaliknya. Kuharap Heru mengerti bahwa aku tidak ingin peduli terhadap apapun yang membuatnya melakukan itu semua. Karena di detik aku mengakui bahwa dia benar dan aku harus mengalah, saat itulah aku kehilangan dirinya.
Semuanya akan terlambat dalam waktu kurang dari satu bulan. Dan yang kami lakukan hanya saling diam. Kami tak lagi pernah membicarakan itu semua. Bahkan kami tak pernah lagi benar-benar berbicara selain urusan pekerjaan. Mungkin kami memang kehabisan pilihan. Aku memang menyerahkan semuanya pada Heru. Dia yang harus mengambil keputusan. Dan jika dia memilih untuk menyerah, maka berakhirlah sudah.
Tinggal menghitung hari dan kurasa Heru tak juga menemukan solusi. Angin terasa lebih dingin dari malam-malam biasanya. Entah karena memang sudah masuk musim kemarau atau karena perasaanku yang tengah benar-benar kacau. Aku terus saja terjaga, membuka lembar demi lembar kenangan kami berdua. Lalu tanpa sadar mata ini berkaca, namun bibirku justru terus tersenyum seolah aku bahagia.
Aku bahagia. Karena hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku adalah bertemu dengannya. Foto-foto kenangan kami melukiskan itu semua. Aku bahagia. Memilikinya, meski pada akhirnya aku harus merelakannya. Mungkin sejak semula, dia tak pernah jadi milikku seutuhnya. Jikalau memang itu pilihannya.
Aku sempat mendengar kalau acaranya akan dilangsungkan dengan meriah. Tapi aku memilih untuk duduk di kedai kenanganku semasa SMA daripada harus pura-pura ikut bahagia dengan hadir di acara pernikahan Heru. Dan bisa melihat sepasang kekasih dengan kisah mereka yang terus berlanjut, ternyata cukup membuatku terharu. Senang rasanya bisa melihat Sheila kembali menjadi sepupu yang lucu.
Baca juga kisah tentang Sheila dalam (Aku Bukan Nurbaya)
“Udah nunggu lama ya, Lin? Maaf telat.” akhirnya datang juga. Muna, teman satu SMA yang kebetulan juga sedang pulang ke rumah. Ketika aku bilang kalau aku juga sedang pulang, si mantan primadona kelas kami itu langsung mengajak ketemu usai sekian lama cuma berjumpa lewat sosial media.
“Wah, makin cantik saja kamu, Lin?”
“Oh, ini dia si Mr. Fairy Tail-nya Muna. Bahagia banget kayaknya kamu Fif? Sepertinya kalian berdua memang cocok tahu, gak?”
Cukup lama kami menghabiskan waktu. Cukup lama bagiku untuk sejenak melupakan kisah sedihku. Dan begitu semua itu berlalu, rasa sakit itu kembali menyerangku. Seolah semua kesenangan yang kurasakan seharian ini bersama mereka tak pernah ada. Seoalah kesedihan ini tak sedetik pun pernah beranjak dariku. Lalu seseorang memelukku.
“Heru. Kamu gila apa?” aku nyaris memekik. Menengok kanan-kiri dan jalanan nampak sepi. Malam beranjak sunyi dan tak kulihat satu pun tetangga membaur dalam kesunyiannya. Tidak dengan udara dingin yang menusuk dengan tajamnya. Tapi tetap saja…
“Kamu udah nikah, Heru. Dan aku gak mau kamu giniin!”
Aku bahkan tak merasa iba dengan semua air mata yang kulihat memenuhi wajahnya.
“Ini bukan air mata penyesalan, Ulin.
Aku hentikan langkahku. Heru terdengar seperti Heru yang biasanya. Dengan mata berkaca yang menjadi pengecualiannya. Aku balas menatapnya dan tak satu pun keraguan atau pun penyesalan kulihat di sana. “Ini keputusanku. Keputusan yang kuambil dengan begitu beratnya. Keputusan yang kuambil dengan ratusan atau bahkan ribuan pertimbangan lainnya. Dan hasilnya tetap sama. Aku tetap harus mengikuti apa mau bapak. Dan aku tetap ingin sama kamu. Mereka inginkan pernikahan, dan mereka telah mendapatkannya. Mereka tak pernah meminta aku untuk juga mencintainya. Karena kalau itu yang mereka inginkan, maka di detik itu juga mereka telah gagal mendapatkannya.”
Tangaku mengepal, sekeras yang aku bisa. Dan pelukan itu kembali kurasakan. Bahkan kini semakin erat hingga aku pun pasrah tenggelam di dalamnya. Tanganku mengepal, gigi-gigiku bergemeletuk menahannya. Namun mata ini tetap saja berkaca. Aku ingin berseru, “Kenapa!?” aku ingin berteriak, “Mengapa!?” tapi hanya terlontar sebagai bisikan yang bahkan mungkin tak terdera. “Cinta memang gak harus bersatu, tapi kita tetap punya pilihan untuk tetap bersama, kan?”
Mungkin kami memang kehabisan pilihan. Aku memang menyerahkan semuanya pada Heru. Dia yang harus mengambil keputusan. Dan jika dia memilih untuk menyerah, maka berakhirlah sudah. Namun jika dia memilih untuk tetap memperjuangkanku, maka meski harus melawan dunia pun aku akan tetap ada untuknya.


By: Hida

No Pict is Hoax, Cikal Bakal Rapuhnya Kepercayaan Manusia?


Tulisan ini berangkat dari ucapan salah seorang teman di facebook yang menanggapi sebuah status di jejaring sosial media itu dengan berkata, No Pict is Hoax. Yang artinya, tidak ada gambar (Foto) sama dengan Hoax (Bohong). Pernah juga, bahkan saudara saya sendiri ada yang mengatakan hal serupa. Ketika salah seorang saudara yang berdomisili di kota berkunjung ke rumah saya dan tentu saja, seperti kebanyakan orang-orang lainnya ketika pergi ke suatu tempat, saudara saya mengambil beberapa foto selfie lalu berkata, “Kata temen si, jaman sekarang No Pict is Hoax.”
Ketika itu saya menanggapinya dengan tertawa dan bahkan mengangguk setuju. Jaman sekarang, orang tak lepas dari yang namanya kamera. Apalagi dengan maraknya sosial media dengan beragam fitur dan kecanggihannya yang memungkinkan kita untuk berbagi informasi maupun gambar dengan sangat leluasa. Tapi apa iya harus dengan gambar baru kita percaya? Bukankah itu yang nantinya mungkin menjerumuskan kita dalam suatu krisis kepercayaan? Di saat nantinya kita dituntut untuk selalu menghadirkan foto untuk setiap tindakan kita agar orang lain percaya. Dan bukan mustahil kelak ada yang ketika ditanya soal Tuhan, tentang nabi, tentang agama, mereka akan mengatakan hal yang serupa. Mungkin tidak dengan generasi kita, tapi bagaimana dengan anak atau cucu kita, ketika akhirnya kita membiasakan diri atau terbiasa dengan budaya yang demikian?
Mungkin tulisan ini hanyalah ujung dari imajinasi liar saya, hanya persepsi yang kelewat jauh jaraknya dari logika. Namun sepatutnya, kita tetaplah harus waspada dengan budaya buruk yang mungkin muncul sebagai efek perkembangan jaman dan tekhnologi yang serba tak terduga.





By: Hida

Diary Cinta Adiana


Hari ini Yoga nembak gue…. Dan rasanya, seneeeng banget. Udah lama gue naksir sama itu cowok. Dan akhirnya… setelah dua minggu yang lalu dia mulai pedekate sama gue, hari ini dia resmi nembak gue. Udah gitu, dia nembaknya make puisi. Romantis pula. Lalu dia bilang, “Buatku, kamu itu bagai bintang Polaris yang selalu menjaga arahku. Hatiku tahu bahwa hanya dirimu lah yang aku tuju. Dan sedalam apapun aku terjaruh, seberapapun aku jauh darimu, senyummu selalu menjadi pijar yang menguatkanku, cahaya yang menuntun langkahku untuk kembali padamu. Polarisaku.”
Cuma satu yang gue sayangin. Gue sama sekali gak suka sama yang namanya bunga mawar. Dan si Yoga, waktu nembak gue, dia dengan pedenya ngasih gue satu iket bunga mawar. Duhh… kenapa gak bunga dandelion aja coba!? Kan keren tuh…. Habisnya, buat gue bunga mawar itu udah biasa banget. Bayangin aja, hampir tiap orang di dunia, selalu make bunga mawar buat ungkapin cinta mereka sama pasangannya. Dan rasanya gak salah kan, kalo gue pengin sesuatu yang beda!? Gue paling suka sama bunga dandelion. Sesuatu yang emang salah kalo gue ngarepin datang dari si Yoga. Dia kan cupu. Gak punya sense. Makanya gue heran, kok bisa cowok secupu Yoyo itu ngomong puitis segila itu sama gue!?
“Apaan, sih!? Gak usah sok puitis gitu lagi, Yo!” ujar gue kesel, tapi dalam hati seneng. Dan gue rasa si Yoga tau kalo gue bakalan nerima cinta dia. “Enggak. Biasa aja, kok. Emang siapa yang puitis?!” sanggah Yoga dan langsung gue sahutin, “Lah itu barusan apaan kalo bukan sok puitis, coba!?”
Yoga tersenyum, trus bilang, “Ah, itu kan karena setiap hal, kalo udah menyangkut kamu itu… pasti jadi indah, Ris.”
Wow… gue bener-bener gak nyangka si Yoga yang terkenal super duper cupu itu bisa ngomong seromantis itu sama gue!
“Ih, lo ini bandel apa emang sengaja pengin bikin gue kesel sih!?” sahut gue sengaja berkilah. “Udah berapa kali gue bilang sama lo, Yo. Jangan manggil gue Risa! Panggil gue, Adiana. Kenapa sih, lo gak bisa manggil gue kaya semua orang aja? Perasaan cuma elo deh, di dunia yang luas ini yang manggil gue Risa!?”
Ngeselinnya, udah gue ngomongnya sengaja pake mode ngotot gitu, eh, si Yoga Cuma senyum trus balas ngomong, “Kan gue udah bilang, kalo buat gue, lo itu seperti Polaris. Terang, cemerlang, dan merupakan satu-satunya bintang gue yang gak akan pernah hilang.”
Sore itu gue Cuma bisa diem dan gak bisa menolak rona merah yang perlahan mengambil alih muka gue. “Ya iyalah. Nama gue kan emang Adiana Polarisa!” Tandas gue setengah tersipu. Dan semenjak hari itu, kita jadian. Dia, si Yoga itu emang Cuma cowok biasa yang bisa gue jumpai dimana aja. Standar. Yah, Cuma pas waktu nembak gue aja dia bisa sok puitis gitu. Tapi gue sayang sama dia. Karena buat gue, standar itu berarti sempurna. Buat gue, standar itu segalanya. Gak perlu terlalu berlebih.

“Ups, sorry. Gue gak sengaja!” kata cowok itu sambil bantuin gue mungutin beberapa buku gue yang yang jatuh berserakan. Siapa? Perasaan pernah ketemu? Kesan gue sama cowok tinggi ganteng yang tiba-tiba nabrak gue di koridor. “Sori, gue lagi buru-buru. Jadi kurang ati-ati jalannya.” Ucapnya lagi sambil pasang senyum yang… oke, terus terang cukup mempesona. Gue coba balas senyum, lalu bilang, “Iya, gak pa-pa, kok.”
“Loh? Situ suka Dandelion!?” ucapnya. Rupanya salah satu bunga Dandelion yang gue pegang juga ikutan jatuh bareng buku-buku gue.
“Iya, ini bunga kesukaan gue…” tangan gue langsung bergerak kilat menyambar dandelion gue dari tangan cowok berambut ikal itu.
Dia tersenyum, terus bilang…
Kening gue berkerenyit. Gak ngarti dengan ucapan cowok misterius plus aneh dan gak jelas itu. Oke, dia ganteng sih…. Dan dia udah keburu berlalu sebelum gue sempet ngomong apa-apa. “Ups, thank you…” gumam gue sendiri.
Dua bulan jalan bareng si Yoga… we just fine. Kami baik-baik aja dan gak kurang suatu apapun. Emang, ada kalanya kita berantem. marahan, dan gak jarang pula kita saling bertolak belakang. Tapi semua itu Cuma seperlunya aja. Gak berlebih. “Jadi seperti yang selalu gue bilang, Put… standar itu berarti, sempurna. Dan gue saranin yah, kalo lo pengin nyari cowok, mending kaya si Yoga aja. Udah nurut, trus juga nerima apa adanya. Berantem kita seperlunya…. trus habis itu baikan lagi.”
“Iya, iya… cowok lo itu emang perfect!” Kata Putri. Jelas sekali nada sarkastis dalam ucapannya yang terdengar maksa itu. “Puas lo!?”
Serius gue gak bisa nahan tawa ngeliat gimana muka si Putri cemberut, manyun and surem. Dia habis putus sama cowoknya yang selalu dia bangga-banggain. Adi jago inilah, Adi begini lah… dan Putri selalu jadi sosok paling nyebelin buat gue, tiap kali dia cerita tentang cowoknya.
“Emang gimana hubungan lo sama si Yoga?” pernah si Putri tanya. Dan gue jawab, “Biasa aja. Gak ada yang terlalu khusus buat gue certain. Maksud gue, kita gak ada masalah yang cukup serius buat gue certain ke elo. Okay, beb?” jawab gue sambil senyum, menutup diary gue dan beranjak dari sisi si Putri Melankoli.
Gue duduk nungguin Yoga di meja nomor 18 yang jadi tempat favorit kita di perpus. Tujuh belas menit berlalu dan itu si ucup belum juga nongol. Dan inilah, satu poin yang melenceng dari status si Yoga yang gue nilai standar itu. Gue berhasil ngabisin dua lembar bacaan buku modul saat akhirnya si Yoga muncul dengan tampang polos dan senyum gak berdosanya. “Sori tadi gue habis piket dulu bentar, beb.” Katanya dengan nafas kacau.
“Gak pa-pa kok. Gue juga baru aja dateng. Yuk!” ucap gue seraya tersenyum. Dan intinya, sedikit kesabaran selalu bisa menyelesaikan masalah yang mungkin kita hadapi dalam sebuah hubungan. Gak perlu membesar-besarkan masalah yang tadinya emang kecil.
Masalahnya, dalam ruang kesabaran itu, muncul orang yang sama sekali gak gue duga. “Satu dandelion. Semoga bisa jadi temen baik kamu sementara menunggu.” Senyum manis itu kadang datang. Bahkan bisa dikatakan seringkali. Beserta satu tangkai bunga dandelion yang selalu dia bawain buat gue. Dendi, cowok ganteng yang nabrak gue waktu di koridor, setelah melalui satu cerita yang sebenarnya pendek, ujung-ujungnya sekarang kita deket. Dan yang paling gue suka dari ini cowok, ialah karena dia selalu bawain satu bunga dandelion buat gue. Karena dia selalu ada deket gue. “Lo ini, kok bisa ada dimana-mana sih!? Gimana ceritanya coba!?” heran gue.
Dendi tersenyum lalu menjawab, “Karena dandelion itu emang bunga yang selalu terbang kemana angin membawanya.”
“Alah, mulai lagi nih…” kata gue. Sedikit meringis sambil berpura palingkan muka gue yang sebenernya tersipu manis. “Lama-lama gue bisa kesel tau gak, sama catchphrase lo itu! Dan gue ini paling benci sama orang yang suka sok puitis macem lo ini!”
Gue bilang gitu, si Dendi Cuma ketawa, lalu bilang, “Gak pa-pa. Its oke. Seenggaknya gue bisa bikin lo yang dari tadi keliatan surem jadi ketawa dan sedikit ceria. Iya, kan?”
Dendi kembali ketawa, sementara gue… persis seperti yang dia bilang, tertawa dengan ceria. Sedikit. Gue gak tau kenapa Dendi selalu bisa ada kapan pun gue butuh seseorang selain Yoga, atao Putri. Pertemuan kedua kami ialah ketika gue lagi nunggu Yoga di depan perpus waktu kami janjian pulang bareng. Dan sementara si Yoga gak juga muncul, satu bunga dandelion gue jatuh dan seseorang memungutnya.
“Bunga lo jatuh nih.” Kata orang yang ternyata sama dengan yang nabrak gue tempo hari.
“Ups!” seru kami bebarengan. “Elo…” gue dengan pedenya nunjuk muka dia dengan jari telunjuk gue yang sekejap kemudian langsung gue tarik mundur.
“Lo demen banget yah jatuhin sesuatu?” katanya, bahkan sebelum gue sempet nyelesein ucapan gue. “Apalagi bunga.”
“Eh, yang kemarin itu elo yang salah, yah?” sergah gue dan dia Cuma meringis terus berkata, “Iya, iya… sori.”
Dan itulah kali kedua kami ketemu sebelum akhirnya kami bener-bener deket dan berteman. “Nama gue Dendi.” Ucapnya memperkenalkan diri. “Kayaknya kita emang ditakdirin buat sering-sering ketemu, deh. Jadi, kalo besok kita ketemu, setidaknya kita udah saling kenal. Lo siapa?”
“Gue, Adiana. Panggil aja Ian.” Ucap gue ragu sembari meringis. Miris juga denger perkataannya yang katanya gue sama dia emang udah ditakdirin buat sering-sering ketemu. Maksudnya apaan!? Teriak gue dalam hati.
Tapi siapa sangka, kalo omongan dia bener-bener kejadian. Kami bener-bener sering ketemu. Gak di perpus, gak di kantin, bahkan waktu gue lagi jalan-jalan ke pasar malem bareng Putri sama adek gue si Arum. Dendi selalu muncul di hadapan gue. Dan tiap kali dia selalu bilang, “Karena dandelion itu emang bunga yang selalu terbang kemana angin membawanya.”

“Duhh, ini si Ucup kemana lagi. Udah lama gini gak datang-datang juga itu anak!?” keluh gue. Dan… “Yah, kalo gitu, mending gue pulang aja deh. Capek nungguin itu Ucup. Mana langitnya keliatan mendung lagi!”
“Jadi batal acaranya?”
“Kayaknya sih gitu.” Sahut gue males. Oke, ini bener-bener udah di luar bates kesabaran gue. “Lagian, kayaknya bentar lagi mau ujan.”
“Gimana kalo gue anter pulang aja?”
Ups! Gak salah?! Gue emang udah lama kenal sama Dendi, tapi kalo soal pulang bareng… “Emm, kayaknya gak perlu deh, Den. Entar gue nyamperin si Ucup aja. Harusnya sih, dia masih di kelas ngerjain tugas Bu Wita bareng si Reza.”
“Oke lady… kalo gitu, gue balik dulu yah.” Balas Dendi lalu pergi dengan setangkai dandelion ditinggalkannya tergeletak di meja. Dan akhirnya, gue pun melenggang sendirian pulang. Gue bohong soal mau nyamperin Yoga di kelas dia. Tapi karena gue udah terlanjur nolak ajakan Dendi dengan alesan semacem itu, jadi mau gak mau gue pun ayunin kaki ke kelas Dendi. Putri udah pulang bareng Neti barusan, jadi mau gak mau gue jalan sendiri. Cuma dandelion Dendi yang membuat gue serasa gak kesepian, jalan sendirian menyisiri koridor kelas dan melewati beberapa siswa yang masih menyibukkan diri dengan entah apa.
Cukup jauh buat sampe ke kelas si Yoga yang letaknya paling pojokan. Tapi gue coba menikmati tiap ayunan langkah gue satu persatu. Dan yang menanti gue di sana adalah…
Gue selalu bilang ke Putri, kalo kesabaran selalu bisa menyelesaikan masalah dalam sebuah hubungan. Dan tiap kali Putri selalu bilang, kesabaran itu ada batasnya. Dan sepertinya gue mulai sampai ke titik yang sobat gue maksud itu.
Dengan mata kepala gue sendiri, gue liat gimana Yoga lagi duduk bareng seorang cewek di dalem kelas. Dan entah dari mana datangnya, rasanya dada gue serasa terbakar. Seperti ada bara yang menyala dan membuat dada gue serasa akan meledak. Dan gue Cuma bisa ngeliat itu semua dengan tangan terkepal. Ada sesuatu yang hangat mulai menyentuh pipi gue, dan tanpa sadar tangan gue bergerak mengusapnya. Gue terisak, lalu muter badan gue dan mulai ayunin langkah gue yang seperti kehilangan arah.
Kayaknya si Yoga sempet ngeliat gue. Tapi gue sama sekali gak peduli soal itu. Gue percepat langkah gue, sembari tangan gue sibuk ngusap airmata gue yang entah kenapa gak mau berhenti. Dada gue sesak, meski gue sama sekali gak punya pengalaman sesak napas. Gue denger suara si Yoga dari belakang gue. Dia berteriak manggil gue, tapi gue cuek. Gue terus melangkah. Tanpa peduli rintikan air yang mulai berjatuhan. Hujan…
“Risa. Dengerin gue dulu. Ris!” seru Yoga dari belakang gue. Tapi gue tetep acuh. Kaki gue terus aja melangkah, bahkan meski hujan mulai mbasahin gue. “Lo itu Cuma salah paham!” seru si Yoga lagi. Suaranya mulai terdengar jauh. Gue menengok dan menatap sosoknya yang terlindung dari hujan di bawah atap gedung sekolah. Sakit rasanya, ngeliat gimana bahkan dia gak rela kehujanan buat gue.
Kacamata gue mulai buram oleh hujan, tapi gue tetep berjalan. Higga akhirnya gue sampai di deket gerbang dan berteduh di bawah atep pos satpam. Dan gue liat si Yoga udah gak ada lagi di tempatnya terakhir gue liat. Dan saat itu, gue sadar ada yang kurang dari diri gue. “Diary gue!?” batin gue bingung, kacau dan sekejap hadirkan panik.
Mata gue langsung berkiblat berkelana mencari dimana gerangan diary gue. Soulmate gue, hidup gue, semua ada di dalemnya. Gue kembali melawan hujan. Lari dengan hawa dingin menggigit tubuh gue yang kurus dan didera kucuran hujan yang jatuh bagai ribuan anak panah yang duturunkan langit buat gue.
Akhirnya gue ngeliat diary gue, tergeletak di tengah lebatnya hujan dan sekejap membuat langkah gue berpacu ke arahnya. “Huff…” akhirnya bisa bernafas lega. Dan lagi, lapisan rain cover membuatnya terlindung dari hujan. Diary…
“Hei,” seseorang berkata dengan lembut. Dan gue baru sadar, kalo aliran hujan di atas kepala gue mendadak berhenti. “Udah bukan lagi dalam usia buat ujan-ujana, kan?”
Dendi berdiri tepat di samping gue. Wajahnya nampak tersenyum lembut sementara tangan kanannya memegang payung yang membuat hujan gak lagi sampai ke tubuh gue. Mata gue kembali berkaca. Ada rasa yang pengin banget gue ledakkan saat itu juga. Saat tubuh gue mendadak melompat dan memeluk sosok Dendi. Tangis gue sekali lagi terisak, dan Dendi… ia jongkok dan memungut sesuatu yang membuat gue tersenyum. Dandelion…
Akhirnya gue ngarti apa arti ucapan Dandi pada pertemuan pertama kami. “Les fleurs sont belles…”
“Ya. Emang bunga yang cantik…” ucap gue perlahan.




By: Hida